Akankah Selamanya?

Akankah Selamanya?

  • WpView
    Reads 1,035
  • WpVote
    Votes 23
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadComplete Sun, Mar 20, 2016
WpInfo
Fiction
Romance
DIA.. SEMPURNA.. "Pernah lo cemburu?? pasti pernah.. tp klo cemburu sama seseorang yang lo sadar lo bukan siapa-siapa dia?? klo lo pernah pasti nyesek kan? Ha..Ha.. ini yg sedang gue alamin saat ini" -Mentari sudah mengeluarkan sinarnya dengan segelas kopi susu yang dibuatnya diteguknya dengan cepat yang sudah mulai d.ngin dengan jam tangan yang hampir menunjukan pukul tujuh dia bergegas menyalakan vespa kesayangan dan berteriak "mak gw berangkat assalamualaikuuum..!" terdengar dr dalam rumah maknya menjawab salamnya dan langsung cus ke sekolah yang jarak nya sekitar tiga kilo dri rumah, entah knapa hari itu tumben niat banget buat sekolah.. apa karna seragamnya udah ganti ke putih abu-abu. Terlihat gedung sekolah yang memang paling besar di kota terkenal Minyaknya yang berlantai 4 bercat biru dan cream, bangunan berbentuk U ditengah nya terdapat lapangan yang disekelilingnya terdapat pohon pohon menjulang keatas seperti cemara. "Zul.."
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Bawa Aku Pulang (End)
  • Rindu Senin Pagi
  • Dating Demi Gengsi
  • Asing kembali Asing🌜🌚
  • Judul standar - ^-^ "My Teddy Bear "
  • KEPINCUT BRONDONG
  • Hallo, Kak Diandra?
  • (18+) Digital Love
  • ON SIGHT (Completed)

By a True Story Tentang dua anak muda yang menghabiskan waktunya bersama di masa putih abu-abu. -- Ponselku bergetar. Layarnya menyala terang. Nama Widya muncul di sana. "Za. Belum tidur?" Tanyanya dalam pesan itu. Aku melirik jam yang terdapat di sudut kanan atas layar ponsel, mendapati kini sudah jam dua pagi. "Belum, kenapa, Wid?" Aku bertanya balik. "Temenin gue teleponan dong! Gue enggak bisa tidur, nih." Sebenarnya, walau berada di kamar, aku sedang sibuk bekerja dengan komputerku. Namun, sejak mengenalnya delapan tahun lalu, aku selalu saja tidak bisa menolak permintaannya. "Oke." Balasku singkat sebelum akhirnya ponselku berbunyi, ada telepon masuk darinya. "Masih kerja?" Terdengar suaranya di sebrang sana. "Udah selesai, kok." Aku terpaksa berbohong. Padahal, aku mengesampingkan pekerjaanku untuknya. "Kenapa? Kok susah tidur? Emangnya mikirin apaan?" "Enggak tau, nih. Akhir-akhir ini, rasanya susah banget tidur cepet." "Lu kebanyakan tidur siang kali? "Bisa jadi, sih. Soalnya gue tidur bangunnya agak siang. Hahaha. Omong-omong, gue ganggu, enggak?" "Ganggu? Enggak, kok." "Emang lu lagi di mana, Za?" Tanyanya. "Di kulkas." "Hahaha." Ia tertawa. Aku selalu suka mendengar tawanya. "Serius ih! Lu lagi di mana?" "Di rumah, Wid. Kenapa, sih?" "Gapapa, nanya aja." Balasnya. "Oh iya, selain kerja, lu sibuk apa lagi deh akhir-akhir ini, Za?" Tanyanya padaku. Entah apa jawabanku atas pertanyaan itu. Yang jelas, aku bicara dengannya cukup lama. Mulai dari membicarakan soal kesibukan selain pekerjaan, sampai akhirnya membicarakan masa-masa SMA, dulu. Iya, Widya adalah temanku saat masih SMA. Aku mengenalnya sejak delapan tahun lalu. Aku ingat bagaimana aku mulai mengenalnya waktu itu.

More details
WpActionLinkContent Guidelines