PROLOG
Dunia memang di penuhi dengan hal-hal yang membingungkan. Bahkan banyak hal di dunia ini yang masih terselimuti dengan hal-hal yang tidak diketahu oleh manusia. Dan semua tergantung pada mereka sendiri, Percaya atau tidak'nya..
Di balik itu semua.. bumi ini banyak menyimpan kegelapan, yang sedang mengikis permukaan bumi, di balik kedamaian yang sedang kita rasakan. Kegelapan yang Sangat pedih dan jauh dari kata ketenangan, tak mudah untuk manusia mempercayai bahwa dunia yang mereka rasa damai dan tenang di balik sebenarnya adalah, kegelapan yang sangat menyedih'kan dan hanya kepasrahan yang ada..
Hari-hari terlewati dengan ketenangan dan di akhiri dengan kegelapan itu sendiri, atas kebodohan manusia itu sendiri, dunia yang semula tenang, sekarang akan menjadi dunia dengan rasa kekehawatiran yang mencekam..
Umur kita sebagai makhluk hidup, sekarang semakin bertambah, atau pada hakikatnya semakin berkurang, tapi apakah hari-hari esok sama. seperti umurku yang selalu bertambah, tapi tetap saja tak sedikit'pun ada yang berubah, secara fisik atau mental, tetap tak ada yang berubah.
Aku benar-benar ragu untuk itu.. apakah ada hari esok, yang bisa kujalani dengan berbedah, Hari-hari yang bisa ku jalani dengan Tujuan untuk hidup, karna itu.. aku ingin memiliki Tujuan untuk Hidup yang pasti..
"Akira!?"
"ya..!!"
"Kau harus siap-siap!!, sebentar lagi kita akan pergi"
"ya.."
"apa sudah kau siapkan barang-barangmu!!, jangan sampai ada barang yang tertinggal. Mengerti?"
"Iya, Ayah. Aku mengerti!"
"oh ya!?, sekalian kau beritahu kakakmu itu, untuk siap-siap!!"
"Kurasa ia sudah berangkat yah!!. Harusnya kita yang menyusul"
Tanaka AKIRA(明/亮)
perang
"Sayangkuu, cintakuu. Gimana dengan hari ini, hm? Are you happy?"
"Seru dong, senang karena ada kamu, Ka. Hehe."
Dulu, setiap percakapan kecil seperti itu mampu menyulap hariku jadi lebih indah. Tapi semua itu kini tinggal kenangan. Hubungan yang manis dan penuh tawa itu akhirnya harus berakhir, bukan karena cinta kami memudar, tapi karena kenyataan terlalu pahit untuk ditelan bersama.
Aku masih mencintaimu. Masih ingin mendekat, masih berharap bisa kembali. Tapi jarak ini bukan lagi tentang raga-melainkan tentang takdir yang tak mengizinkan kita bersatu. Cinta kita besar, tapi tidak cukup untuk melawan kenyataan yang tak berpihak. Banyak halangan yang kucoba lalui demi kamu, demi kita... tapi ternyata semesta punya rencana lain.
Kini, aku hanya bisa menatapmu dari kejauhan. Ingin kembali, tapi tak bisa. Ingin melepaskan, tapi hatiku belum rela. Satu kejadian itu-satu hari yang mengubah segalanya-telah memutus tali yang tak terlihat namun sangat kuat mengikat kita. Jika bukan karena kejadian itu, mungkin aku masih tersesat dalam hubungan yang samar: ada, tapi tak punya peran. Dulu aku memegang peran utama di hidupmu. Sekarang? Bahkan untuk menjadi figuran pun aku tak lagi layak.
Kita pernah sangat dekat, tapi kini aku tahu... melepaskan sesuatu yang sudah terasa seperti rumah tidak akan membuat segalanya membaik. Bahagia tidak selalu datang setelah menjauh. Dan seringkali, hubungan yang tampak sempurna dari luar menyimpan luka yang tak pernah terucap.
Aku tak menyangka semuanya akan berakhir seperti ini. Tapi yang sudah terjadi, biarlah terjadi. Meski begitu, kenangan itu-kenangan tentang hari itu-masih terpatri jelas di pikiranku. Hari saat aku sadar... cinta saja tidak cukup.