Alive
  • WpView
    Reads 733
  • WpVote
    Votes 63
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Mar 21, 2016
Saat rintik hujan berjatuhan mengenai wajahnya, disaat itu lah ia merasa bahwa sesuatu dalam dirinya pergi bersama hembus angin yang membuat malam terasa semakin dingin. . Sepasang mata yang bergetar diantara remang cahaya lampu jalan dengan air hujan yang mengaburkan penglihatannya, serta rasa perih yang teramat sangat mendera sekujur tubuhnya, hanya mampu melihat dengan tidak percaya. Ia mencoba menggerakkan tangannya untuk mencapai sosok lain yang ia harapkan segera memberi senyum kepadanya.
All Rights Reserved
#1
hatsuki
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Mianhae Hyung || So Junghwan {SEDANG DIREVISI}
  • Naruto : Anak Ramalan
  • Langit Tak Bertemu Bumi
  • Kokok Beluk Ice Preso
  • He Change
  • The Suffering of a Friend
  • FROZEN ROOM

{END} Honesty is expensive, therefore never underestimate people who tell the truth. So Junghwan, si bungsu dengan senyuman yang seolah melukis kesempurnaan, hidup dalam sunyi yang menggigit. Bukan karena ia tak ingin bersuara, tapi karena dunia memilih untuk tak mendengar. Luka-luka tak kasat mata menggores dalam, sementara rasa sakit di sekujur tubuhnya menjadi pengingat kejam bahwa bahkan bernapas pun bisa terasa seperti hukuman. Namun, di tengah kehampaan itu, ada doa yang terus ia bisikkan kepada langit yang tak pernah menjawab. "If I could live again," pikirnya, sambil menatap bintang-bintang yang terasa begitu jauh, "I'd wish to know how it feels to be loved by all my Hyungs." Harapan itu kecil, rapuh, tapi indah-seperti kelopak bunga yang mekar meski dikelilingi musim dingin. Bahkan di dunia yang dingin, Junghwan percaya, cinta- sekecil apa pun- adalah alasan untuk tetap melangkah.

More details
WpActionLinkContent Guidelines