Untitled Story

Untitled Story

  • WpView
    LETTURE 92
  • WpVote
    Voti 5
  • WpPart
    Parti 6
WpMetadataReadIn corso
WpMetadataNoticeUltima pubblicazione dom, apr 3, 2016
(Masih dalam proses) . . . Kita akan sama-sama tau, bagian paling brengsek dari mencintai. Saat orang yang kau cintai sepenuhnya hanya mencintai kau seperlu nya. Mentari adalah gadis biasa seperti gadis-gadis pada umumnya, ingin dicintai dan dikasihi oleh orang-orang yang ia sayang. Namun kenyataan tak selalu manis, akan ada sisi pahit. Begitu pula dengan Mentari, ia tak selamanya bersinar akan ada gelap malam yang mengusir, begitu pula kisah cintanya.
Tutti i diritti riservati
Entra a far parte della più grande comunità di narrativa al mondoFatti consigliare le migliori storie da leggere, salva le tue preferite nella tua Biblioteca, commenta e vota per essere ancora più parte della comunità.
Illustration

Potrebbe anche piacerti

  • Memories in Moon
  • Destiny said. {BERSAMBUNG}
  • VAGALDARA [TERBIT]
  • Hanyalah Pengagum Rahasia Sang Mentari
  • Heliophobia ✔
  • DESPERATE (COMPLETED) ✔
  • [ √  ] AMERTA ¦ Ft Huang Renjun
  • Eccedentesiast
  • Because I'm Stupid (End)

Gadis ini menundukkan kepala membiarkan kucuran air membelai surainya. Hujan terus menggiringku untuk bermimpi, takala ia terus menyusuri tubuhku dari rambut, hingga ujung kaki. Aku hanya diam, air ini sedikit membuat ku tenang. Aku takut, aku gelisah. Aku ingin berteriak memaki keadaan. Memaki diriku. Hujan, akan kah dirimu marah jika ku maki dengan isak ku? Akankah dirimu menerima rasa takut ku? Trauma ku? Semua kegelisahan ku? Rasa tidak percaya ku akan diri ku sendiri? Adakah yang bisa menerimaku? Bulan, jika kau jadi aku, akankah tetap setegar dirimu? Apakah hujan adalah wujud kekecewaan mu pada diri sendiri? Apakah awan yang menutupi mu adalah caramu untuk menghilang? Akankah menghilang adalah wujud lelah mu? Bersembunyi dibalik awan, apakah itu bentuk ketakutan mu seperti aku takut menghadapi kenyataan? Boleh aku jadi dirimu? Jarang di lihat mata, di nanti sebelum purnama namun di sukai saat sempurna. Bulan, pernah kah kau takut akan cacian manusia yang begitu kejam? Bahkan, bintang yang dapat kau gapai bisa saja mencela mu. Rambu dari mereka selalu menusuk nurani. Hilang akal ku, hilang kepercayaan ku. Masih normalkah jika ku bilang ingin menghilang? Masih terimakah kau jika ku bilang mereka harus lenyap?

Più dettagli
WpActionLinkLinee guida sui contenuti