Hujan
  • WpView
    Reads 58
  • WpVote
    Votes 2
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadComplete Tue, Apr 19, 2016
Gemuruh guntur dan kilatan petir menjadi tanda akan turun hujan. Alyssa menarik selimut tebalnya,tanda-tanda hujan yang menakutkan membuatnya ingin bersembunyi dibalik selimut. Dan detik berikutnya sahutan guntur dan pertir tidak lagi terdengar hanya berganti dengan suara nyaring khas ribuan tetes air mata langit yang tumpah. Alysaa menyibakkan selimutnya dan berfokus pada kaca jendela kamarnya yang mulai berembun, embun tipis itu seolah memanggilnya untuk mendekat. "Hujan yah" Katanya
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Di Antara Keheningan
  • REMEMBER ME ABOUT YOU ( JungJaehyun )
  • ˢᵘⁿʸⁱ
  • Pangeran Alfiyyah [SELESAI]
  • Umbrella and Rain
  • | Ulfa Eliza | •End•
  • Petrichor
  • Why?
  • Saat Hujan Turun Di Bulan Juni

Hujan turun tanpa henti, membasahi setiap sudut kota yang kelabu. Di antara orang-orang yang terburu-buru mencari tempat berteduh, satu gadis berdiri sendiri di tepi jalan. Basah kuyup, tubuhnya gemetar, tapi tatapannya tetap lurus ke depan. Ia melangkah perlahan, tanpa tahu... lampu lalu lintas telah berubah hijau. Dari balik kaca toko roti kecil, seorang pria melihatnya. Tanpa pikir panjang, ia menerobos keluar, menerjang hujan, dan menariknya mundur sebelum suara klakson menyayat udara. "Ya Ampun, kalau mau nyebrang lihat sekeliling dulu, dong!" Gadis itu hanya terdiam. Matanya menatap kosong, tidak takut... hanya asing. Kemudian ia mengangkat tangan, dan dengan gerakan sederhana yang nyaris tak terlihat, ia berkata tanpa suara: Aku tidak bisa mendengar. Saat itu, waktu seakan berhenti. Di bawah hujan yang deras, dua orang yang tumbuh di dunia yang berbeda-saling bersentuhan untuk pertama kalinya. Bukan dengan suara, tapi dengan rasa. "Dunia kami mungkin berbeda, namun dalam keheningan dan kebisingan itu, kami menemukan cara untuk saling merasakan dan mengerti." - Rakasha.

More details
WpActionLinkContent Guidelines