Story cover for Bullying by Fiqi_Syahril
Bullying
  • WpView
    Leituras 99
  • WpVote
    Votos 3
  • WpPart
    Capítulos 2
  • WpView
    Leituras 99
  • WpVote
    Votos 3
  • WpPart
    Capítulos 2
Concluída, Primeira publicação em abr 01, 2016
Maduro
Kisah ini menceritakan
Seorang siswi, salah satu sekolah SMK dibekasi yang selalu kena buly oleh teman-teman Kelasnya. Pada suatu Hari ia dibuly lalu dikunciin didalam kamar mandi selama Jam pelajaran sampai Bel pulang. Cerita ini ditokoh
Chris
Rize
Dei
Qiqi
Rama
Dafi
Pak joko
Bu fifit
Todos os Direitos Reservados
Inscreva-se para adicionar Bullying à sua biblioteca e receber atualizações
ou
Diretrizes de Conteúdo
Talvez você também goste
RIMBA MERUN, de danynovery
30 capítulos Em andamento
Di sebuah dusun terpencil, tersembunyi di jantung hutan tropis Lampung, berdiri sebuah sekolah bernama Rimba Merun. Di sanalah Bu Mar, seorang guru tua dari kota menempuh perjalanan puluhan kilometer setiap hari demi sekolah ini tak di tutup. Bersama dua guru lainnya, ia mengajar segelintir anak dusun yang miskin dan sederhana. Murid-muridnya mayoritas berasal dari keluarga tak mampu. Di dusun itu, kebanyakan orang tak berpendidikan, hidup dari buruh kelapa sawit, dan pertanian seadanya. Sekolah dianggap sia-sia. Namun, para guru tak menyerah begitu saja dalam mendobrak lingkaran setan. Lalu datanglah ancaman. Perusahaan konglomerat sawit mengklaim bahwa tanah sekolah dan hutan di sekitarnya, termasuk dusun Rimba Merun, masuk dalam wilayah konsesi mereka. Pabrik itu akan menggusur tanah mereka. Bu Mar dan guru lainnya tidak tinggal diam. Bersama murid dan sebagian warga yang mulai sadar dan berani, mereka membangun perlawanan. Namun perjuangan tidak mudah. Di tengah tekanan ekonomi, masyarakat terpecah dan merasa tak mampu karena yang mereka hadapi adalah koorporasi raksasa, sedangkan mereka, hanya orang miskin yang punya tanah dengan status warisan turun temurun. Ini adalah kisah tentang sekolah kecil di tengah hutan, tentang harapan guru-guru yang tak berhenti percaya menyalakan api pendidikan, tentang anak-anak yang tak berhenti bermimpi, dan potret masyarakat pedalaman yang bertahan hidup ditengah gempuran ekoonomi. Jika sekolah dan dusun itu hilang, bukan hanya bangunannya yang lenyap, tetapi juga seluruh mimpi mereka.
Talvez você também goste
Slide 1 of 8
RIMBA MERUN cover
Seniorku Sangat Mungil Yang Suka Usil !! cover
KAPAN MOVE ON? cover
My Stupid Love Story cover
Cewek Cuek [Completed] cover
Si Pendiam yang Menghanyutkan [On Going] cover
ADA CINTA DALAM EKSKUL [END] cover
Sky Is Blue cover

RIMBA MERUN

30 capítulos Em andamento

Di sebuah dusun terpencil, tersembunyi di jantung hutan tropis Lampung, berdiri sebuah sekolah bernama Rimba Merun. Di sanalah Bu Mar, seorang guru tua dari kota menempuh perjalanan puluhan kilometer setiap hari demi sekolah ini tak di tutup. Bersama dua guru lainnya, ia mengajar segelintir anak dusun yang miskin dan sederhana. Murid-muridnya mayoritas berasal dari keluarga tak mampu. Di dusun itu, kebanyakan orang tak berpendidikan, hidup dari buruh kelapa sawit, dan pertanian seadanya. Sekolah dianggap sia-sia. Namun, para guru tak menyerah begitu saja dalam mendobrak lingkaran setan. Lalu datanglah ancaman. Perusahaan konglomerat sawit mengklaim bahwa tanah sekolah dan hutan di sekitarnya, termasuk dusun Rimba Merun, masuk dalam wilayah konsesi mereka. Pabrik itu akan menggusur tanah mereka. Bu Mar dan guru lainnya tidak tinggal diam. Bersama murid dan sebagian warga yang mulai sadar dan berani, mereka membangun perlawanan. Namun perjuangan tidak mudah. Di tengah tekanan ekonomi, masyarakat terpecah dan merasa tak mampu karena yang mereka hadapi adalah koorporasi raksasa, sedangkan mereka, hanya orang miskin yang punya tanah dengan status warisan turun temurun. Ini adalah kisah tentang sekolah kecil di tengah hutan, tentang harapan guru-guru yang tak berhenti percaya menyalakan api pendidikan, tentang anak-anak yang tak berhenti bermimpi, dan potret masyarakat pedalaman yang bertahan hidup ditengah gempuran ekoonomi. Jika sekolah dan dusun itu hilang, bukan hanya bangunannya yang lenyap, tetapi juga seluruh mimpi mereka.