Red
  • WpView
    Reads 179
  • WpVote
    Votes 25
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadComplete Mon, Apr 4, 2016
WpInfo
Fiction
Romance
Jujur, aku terlalu takut Terlalu pengecut Luka yang dia buat terlalu sempurna Tercetak jelas Berdarah dan berbekas Entahlah, aku pun takut Apa kau akan menorehkan luka yang sama? Atau kau hanya singgah sementara? Bisakah aku mempercayaimu? Bahwa sekali ini, hatiku berada di tangan yang tepat Bisakah kau menunggu? "Aku kan menunggu. Aku akan menunggu. Sampai kapan pun aku akan menunggu, sekalipun aku hanya manusia biasa yang memiliki batas. Aku akan menunggu sampai batas itu. Aku akan menunggu." Bisakah kau menunggu?
All Rights Reserved
#867
complete
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Mahligai Sunyi
  • You're Here, But Not For Me
  • I Love You
  • Kamu [SELESAI]✔
  • Everything Between Us (ON GOING)
  • Cempaka Terakhir ✔
  • Dear Kamu : My One and Only Crush On My Life
  • Keano
  • Waiting For You
  • A Dying Butterfly [SEGERA TERBIT]

Novel "Mahligai Sunyi": Senja mulai menua di balik jendela kaca, membiaskan cahaya jingga yang merayap perlahan di sudut ruangan. Aku duduk dalam diam, menatap kosong pada cangkir teh yang tak lagi mengepul. Aroma melati yang biasa menenangkan kini terasa hambar di inderaku. Aku terjebak dalam pusaran pikiranku sendiri, menggenggam kenyataan yang pahit namun tak bisa kutolak. Aku pernah percaya bahwa cinta adalah tentang memilih satu orang, bertahan dengannya dalam segala cuaca, dalam segala luka. Namun, kini aku mengerti bahwa terkadang, cinta juga berarti kehilangan-kehilangan harapan, kehilangan rasa percaya, bahkan kehilangan diriku sendiri dalam labirin luka yang diciptakan oleh seseorang yang seharusnya menjagaku. Arion adalah cintaku, atau setidaknya pernah menjadi. Aku mempercayainya lebih dari yang seharusnya, mencintainya lebih dari yang pantas. Namun, cinta saja tidak cukup untuk mempertahankan sebuah rumah tangga. Tidak cukup untuk menghindarkanku dari rasa sakit yang berkali-kali ia hadiahkan. Tidak cukup untuk membuatnya berhenti mencari bahagia di tempat lain. Aku telah memaafkan, berkali-kali. Aku telah memberi kesempatan, hingga tak tahu lagi batas dari kata "cukup." Tetapi, sampai kapan aku harus terus bertahan? Sampai kapan aku harus mengorbankan kebahagiaanku sendiri demi menjaga sesuatu yang terus menerus hancur? Dan di sinilah aku, berdiri di persimpangan. Antara bertahan dengan luka atau pergi dengan sisa-sisa keberanian yang kupunya. Aku tidak tahu bagaimana akhir dari kisah ini. Yang kutahu, aku hanya ingin menemukan kembali diriku yang telah lama hilang.

More details
WpActionLinkContent Guidelines