MY (IM)POSSIBLE BOY

MY (IM)POSSIBLE BOY

  • WpView
    Reads 801
  • WpVote
    Votes 111
  • WpPart
    Parts 8
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Apr 30, 2016
"kamu ialah ketidak mungkinan yang selalu aku semogakan" Kalau sudah kebal melewati hujan badai,mengapa harus menggigil disaat melewati gerimis?Disini gue (Nike) mau menceritakan tentang perjuangan setengah mati gue untuk Miko.haruskah gue setragis ini dalam mencintai miko? Mati namun harus tetap bernafas?sama layaknya seperti mencintai tetapi bertahan untuk tidak memiliki. Aku belajar dari hujan,tetap kembali meskipun sudah merasakan jatuh berkali-kali. "TRULY MY NIGHTMARES ARE LOSING HIM"
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Memories in Moon
  • ARGIAN [ON GOING]
  • BAM || Betapa Aku Mencintaimu (End)
  • Jangan Datang Hujan (TERBIT)
  • Rasa Yang Hilang
  • TRANSMIGRASI ICE GIRL [END]
  • FARHAN [End]
  • Hitam Putih Cinta [Terbit Ebook]
  • THE CLIMB [Completed]
  • ARKASYA

Gadis ini menundukkan kepala membiarkan kucuran air membelai surainya. Hujan terus menggiringku untuk bermimpi, takala ia terus menyusuri tubuhku dari rambut, hingga ujung kaki. Aku hanya diam, air ini sedikit membuat ku tenang. Aku takut, aku gelisah. Aku ingin berteriak memaki keadaan. Memaki diriku. Hujan, akan kah dirimu marah jika ku maki dengan isak ku? Akankah dirimu menerima rasa takut ku? Trauma ku? Semua kegelisahan ku? Rasa tidak percaya ku akan diri ku sendiri? Adakah yang bisa menerimaku? Bulan, jika kau jadi aku, akankah tetap setegar dirimu? Apakah hujan adalah wujud kekecewaan mu pada diri sendiri? Apakah awan yang menutupi mu adalah caramu untuk menghilang? Akankah menghilang adalah wujud lelah mu? Bersembunyi dibalik awan, apakah itu bentuk ketakutan mu seperti aku takut menghadapi kenyataan? Boleh aku jadi dirimu? Jarang di lihat mata, di nanti sebelum purnama namun di sukai saat sempurna. Bulan, pernah kah kau takut akan cacian manusia yang begitu kejam? Bahkan, bintang yang dapat kau gapai bisa saja mencela mu. Rambu dari mereka selalu menusuk nurani. Hilang akal ku, hilang kepercayaan ku. Masih normalkah jika ku bilang ingin menghilang? Masih terimakah kau jika ku bilang mereka harus lenyap?

More details
WpActionLinkContent Guidelines