Take It (Astronomi )

Take It (Astronomi )

  • WpView
    Reads 81
  • WpVote
    Votes 4
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadMatureComplete Sat, Apr 9, 2016
BAB 1 (Awal dari Sebuah Impian) "Tolong...Tolong.. aku tersesat" Teriakkan minta tolongku tidak terdengar oleh siapapun, mencari jalan keluar dengan berlari dan berteriak tidak membuahkan hasil. Usahaku yang terlihat sungguh -sungguh itupun berakhir sia-sia saat salah satu kaki ku menyentuh lantai, dan semakin lama memberontak aku semakin terjatuh. Menyebabkan semua badanku berada dibawah, akupun terbangun dari mimpi yang membingungkan itu. Semua ketakutan yang membelenggu itu, ternyata hanyalah mimpi yang tak berujung. Aku sangat berharap tidak akan pernah bermimpi seperti itu lagi, dan aku juga berharap mimpi itu tidak akan terjadi padaku didunia nyata. Malam itu angin mulai berhembus berhamburan, menyisiri seluruh pelosok diperumahan kecilku yang tak seberapa luasnya. Beberapa kali atap rumahku berdencit akibat dentumannya yang keras, mataku yang terbuka lebar tak dapat aku pungkiri bahwa saat itu aku benar-benar tidak ingin tertidur.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • CAN'T GET OVER YOU [COMPLETED]
  • Angel To Raya (END)
  • The Silence That Shaped Me
  • Jejak Luka Di Bawah Langit Senja
  • Ecosillia
  • tumbal gadis perwan
  • Velmora Selphine
  • CINTA YANG BERBEDA
  • Dalam Diam | Hiatus

Ps: Cover's credit to the owner. CAN'T GET OVER YOU Suara desingan angin memekakkan telingaku. Penglihatanku memudar, tubuhku terasa begitu ringan - semakin ringan hingga aku tak mampu merasakan sendiri berat tubuhku. Melayang...dengan cepat. Merasuk dalam putaran angin yang begitu kencang. Ketika aku berhasil kembali merasakan keberadaan tubuhku, justru rasa sakit yang amat sangat melanda. Aku terhempas, begitu keras. Rasa sakit yang pertamakali aku rasakan, tetesan air mata yang pertamakali mengalir di wajahku, dan...pertamakalinya aku merasakan tubuhku terluka; berdarah. Tatapanku berubah menjadi sayu - tak sanggup melihat langit yang kini terlihat begitu jauh di atasku. Langit gelap yang tak lagi menerimaku. Langit yang bahkan tak berbintang. Rembulan terlihat begitu kecil dari sini. Menyedihakan. Tempat yang kuanggap rumah selama ini, melepaskanku. Inikah yang aku inginkan? Aku bisa melihat bulu-bulu dari sayapku bertebaran tak menentu. Aku juga dapat merasakan sayapku menyakitiku. Aku menoleh kearah sayap kananku, terlihat begitu jelek. Patah - tak berbentuk. Apakah aku akan lenyap untuk selamanya? Kesadaranku lambat laun menghilang. Mataku terpejam bersamaan dengan teriakan melengking dari seseorang. Aku tak tahu apa yang akan terjadi. Pertamakalinya aku merasakan lelah - sangat lelah...

More details
WpActionLinkContent Guidelines