Undangan Merah Jambu

Undangan Merah Jambu

  • WpView
    LECTURAS 19
  • WpVote
    Votos 1
  • WpPart
    Partes 1
WpMetadataReadContinúa
WpMetadataNoticeÚltima publicación jue, abr 7, 2016
"ve, assalamualaikum ukhti... " sapa mbak dian saat berpapasan denganku di koridor ruang dosen. Aku habis menaruh absen di ruang secretariat, dan berniat sholat di musholla. Kuhentikan langkahku dan membalas salamnya. "waalaikumsalam wr wb... ada apa mbak?" jawabku "ini ve, aku mau ngasih undangan pernikahanku. Diusahakan datang ya dek.. " kata mbak dian sambil menyerahkan undangan merah jambu "makasih mbak... sama siapa mbak?" tanyaku sembali menerima undangan itu. Mbak dian tidak pernah terlihat dekat dengan lelaki manapun, seperti halnya dengan ukhti2 kampus yang lain. "lihat saja di undangan dek, mbak yakin kok ve kenal dengan beliau. Mbak pergi dulu ya ve.. ada kuliah" pamit mbak dian "iya mbak.. hati2.."kataku 'iya, makasih ya ve. Wassalamualaikum wr wb.. " salam mbak dian "waalaikumsalam wr wb" sahutku. Kubawa undangan merah jambu itu duduk di depan ruang secretariat, kubuka undangan itu, dan kubaca tulisannya di tengah undangan. Arya Wicaksana dan Dian Permata Putri Mas arya? Deg!! Kaget aku membacanya, aku tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi nina, adik kelasku kalau dia tahu mas arya akan menikah dalam waktu dekat ini. Aku masih ingat betul bagaimana nina dengan malu2 mengatakan bahwa ia mempunyai desiran pada mas arya, kakak kelasku, seangkatan dengan mbak dian.
Todos los derechos reservados
Únete a la comunidad narrativa más grandeObtén recomendaciones personalizadas de historias, guarda tus favoritas en tu biblioteca, y comenta y vota para hacer crecer tu comunidad.
Illustration

Quizás también te guste

  • 1, Bunga di Taman Hati
  • It's True Love With Ketos
  • Lelaki Pilihan Ayah & Lekaki Yg Mengagumi Ku [END]✓✓
  • GrapicH [✔] JOHNTEN FML
  • A Bittersweet farewell  ( Sudah Lengkap Mari Di Baca)
  • I L A L A N G ✔ (Tamat)
  • Zara dan Reza
  • Story Nisya
  • Suamiku Amnesia (REPOST)
  • Istri Atau Sarjana [Tamat]

"Fabian..." Mami menatapku. "Yakin, Ian mau kalau dijodohin?" "Kalau semua ikhlas, aku yakin, Mi." Aku terus menatap mata ibuku. "Sayang, kamu sudah dijodohkan sejak sebelum kamu lahir." Aku tersentak. Tergugu tanpa kata. Tanpa bisa kucegah, aku memasang wajah bodoh. "Cerita singkatnya, jodoh Ian ini cucu teman Opa." "Gimana bisa?" Aku masih memasang wajah bodoh itu. "Waktu Opa dan temannya Long March Divisi Siliwangi, mereka berdua terpisah dari rombongan, lalu kena ranjau darat. Pas masa kritis kayak gitu, mereka sepakat mau ngejodohin anak-anaknya atau cucu-cucunya." Mami membuka tasnya. Mengambil selembar amplop lalu menyodorkan amplop tersebut ke arahku. "Ini foto calonnya." "Aku setuju, Mi." Aku tetap menatap wajah Mami. "Ian nggak lihat dulu anaknya?" "Aku yakin sama pilihan Mami. Apalagi ini kesepakatan semua." "Ian lihat dulu deh..." Meski merasa tak butuh melihat wajah yang tersembunyi di balik itu, tetap saja akhirnya kubuka amplop tersebut. Haahhh??? "Mami...??" Kupandang wajah Mami dengan wajah bodohku yang terbaik, yang terbodoh. "Nggak salah nih, Mi...?" "Kenapa? Ian berubah pikiran?" "Masih ABG beginiii...!!!" "Oh... itu foto dia masih kelas X." "Sekarang?" "Balik foto itu," perintah Mami tegas. Perlahan kubalik foto itu. Kembali aku terkesiap. "Mami...?" Kupasang wajah bodohku sekali lagi. "Ini beneran?" "Ya benar lah." "Ini mahasiswa aku, Mi.... Sekarang tingkat satu. Tahun depan pasti masuk kelas aku." "Sepertinya begitu," jawab Mami maklum. "Ada masalah dengan itu?" Aku tergugu. Namun aku merasa harus bertanya. "Mi, dia mau sama aku? Dia mau dijodohin sama dosennya?" "Nah, pertanyaan bagus." Mami menepuk bahuku. "Dia sama sekali tidak tahu soal perjodohan ini. Jadi sekarang bola di tangan Ian. Kamu mau bawa ke mana bolanya. Terserah." Haaahhh??? ***

Más detalles
WpActionLinkPautas de Contenido