Read
  • WpView
    Reads 930
  • WpVote
    Votes 239
  • WpPart
    Parts 12
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Jun 5, 2020
Remy itu seperti sebuah buku misteri. Aku tak bisa tahu apa isinya hanya dengan melihat sampulnya. Aku ingin tahu isinya, tapi aku tak bisa mengerti bahasanya. Aku tak mengerti Remy. Lalu setelah Remy, muncul lagi seorang yang tidak pernah bisa dibaca. Namanya Timoty. Dia seperti sebuah novel roman yang bisa di tebak bagaimana endingnya, tapi lagi-lagi tebakanku tentangnya salah. Lantas, mengapa mereka hanya bisa menjungkirbalikkan perasaan? Semua laki-laki itu sama. Mereka hanya bisa mengucapkan kata-kata manis, tapi tidak bisa membuktikannya. Entahlah, aku tak bisa membacanya. -Clarita April Dearcia- Dia berpikir semua laki-laki itu sama. Tidak. Setiap orang itu berbeda, dia mengatakan hal itu hanya karena pernah patah hati oleh laki-laki yang tidak pantas disayanginya. Tapi entah mengapa ia tetap bertahan. Aku tidak mengerti jalan pikirannya. Aku tidak bisa membacanya. -Timoty Arian Junio- Seandainya, waktu bisa di ulang. Seandainya, aku bisa membaca keadaan. Seandainya, aku bisa mengerti arti sikapnya. Namun itu semua hanya 'seandainya' karena yang kudapat, hanya jawabannya yang tak tertebak. Aku tak bisa membacanya. -Jeremy Tio Luhandi- Ini kisah tentang mereka yang masih mencari jati diri. Ini kisah mereka yang masih mencari arti cinta. Ini kisah dari mereka yang mencoba membaca situasi dan menebak apa yang akan terjadi. Cerita ini mengalir berdasarkan sudut pandang ketiganya. ~slow update~
All Rights Reserved
#243
schoolstory
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Satria Dirgantara [Complete]
  • The First, Not the Last
  • FRIENDzone (Completed)
  • BEDA DUNIA
  • DENNIES
  • [END] Blind Rainbow
  • Waktu?
  • NAUSY
  • LOVE AND FRIENDSHIP ( R & J : 1 )
  • Badai Tak Berujung [ON GOING]

Namanya Satria Dirgantara. Seperti namanya, ia seorang kesatria, tapi ... kesatria tanpa senjata. Membuat dirinya mudah sekali terluka. Dan, jadilah ia remaja enam belas tahun yang berteman akrab dengan luka. Remaja yang memiliki senyum secerah senja dan tatapan sekelam samudra. Jika sudah tersenyum secerah itu maka topengnya nyaris sempurna, menyembunyikan goresan panjang tepat di dada. Tak akan ada yang tahu kalau ia sedang berpura-pura bahagia. Sebab rasa sakitnya, tak akan ia biarkan siapa pun tahu seberapa beratnya. Cukup orang-orang menilai bahwa ia adalah sosok paling bahagia di dunia. Namun, benteng pertahanannya mulai goyah semenjak ibunya telah tiada. Padahal ia hanya punya ibu saja di dunia. Lalu, lelaki itu datang, memberinya ucapan penenang, juga peluk hangat yang entah kenapa membuat dia bisa merasakan hangat pelukan Sang Ayah yang selama ini hanya ia damba dalam bayang-bayang. Lelaki itu memperkenalkan namanya sebagai Fandi sekaligus ayahnya. Kemudian semua berjalan begitu saja. Keluarga Fandi yang awalnya baik-baik saja itu hancur karena kedatangan Dirga. Membuat ibu dari dua anak kembar Fandi yang lain pergi dari rumah, dan Dirga harus menerima tatapan tak suka juga perlakuan kasar dari salah satu abang kembarnya. . "Gue emang enggak pantas jadi adek lo berdua, Bang."--Satria Dirgantara . "Gue bukan abang lo, jadi stop panggil gue 'abang'. Satu lagi, Fian juga bukan abang lo. Dia cuma punya satu adek, yaitu gue." --Refino Aditya . "Kalau disuruh memilih antara kalian berdua, jelas gue enggak bisa milih salah satunya. Karena kalian berdua sama-sama adek gue."--Refian Aditya

More details
WpActionLinkContent Guidelines