We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
hope and illution

hope and illution

  • WpView
    Reads 100
  • WpVote
    Votes 1
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Apr 10, 2016
WpInfo
Non-Fiction
Malam ini aku memimpikanmu.. lagi. Kau harusnya tau atau setidaknya bisa merasakan aku yang selalu bangun pagi dengan semangat atas namamu. Dengan tanpa sadarnya aku lakukan itu selama tujuh tahun lamanya. Hal bodoh apa yang sedang kulakukan. Aku mencintainya. Ya, sekali lagi aku akan berucap secara tegas bahwa aku mencintainya. Jangan ajarkan aku untuk berkhianat. kau itu tidak nyata. Kau itu jauh, bahkan kita sudah di pisahkan dari pulau satu ke pulau yang lain. Lalu apa yang membuat namamu terus bertahan diingatanku? Alasan klise untuk menyebut bahwa kita pernah punya kenangan, apalagi itu tentang masa kecil. Tapi nyatanya, aku tidak bisa berbohong atas itu. Baiklah, akan kubiarkan semua angan ini untuk tetap menjadi ilusi, tidak untuk menjadi nyata. Karena aku punya alasan untuk tetap bertahan dengan kondisi seperti sekarang.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • TIME will TELL {On Going}
  • Mengembalikan Ikatan Persaudaraan (End)
  • SasuHina - I Knew I Love You
  • di akhir perang
  • You are in my past and my future [END]
  • Learning in Progress (Boboiboy x Yaya)
  • RANNA
  • Antara Jarak Dan Waktu
  • Cahaya Dirimu

"Selamat Tinggal." Itulah ucapan terakhir yang ia dengar sebelum sebuah benda pipih dan tajam menikam jantungnya. Mata berwarna jingga layaknya api yang berkobar itu menatap kearah sang pelaku yang menatapnya dengan tatapan kosong. "Sialan kau...seandainya saja...kau tidak pernah dilahirkan dan fakta bahwa kau adalah adikku..." "Kiamat ini tidak akan pernah terjadi." Pedang yang ada di tubuhnya ditarik keluar membuatnya tersungkur di lumpur yang sudah digenangi oleh darahnya sendiri. Melihat bahwa lawannya sudah lumpuh si 'adik' itu pun pergi meninggalkan si 'kakak' menghembuskan napasnya untuk terakhir kalinya. ■□■□■□■□ Mata jingga itu terbuka lagi, kini di depannya ada sebuah jam besar yang jarum jamnya tidak berdetak sama sekali. "Apa yang akan kau pilih, nak? Menyerah dan mati disini atau mengulang kembali waktu yang telah kau sia-siakan?" "Kembalikan aku agar aku bisa menebus kesalahanku yang dulu." "Senang mendengarnya~" □■□■□■□■ Apakah anak itu bisa melakukan perjalanannya? Rintangan apa yang akan ia lalui selama melakukannya? Hanya waktu yang akan menjelaskannya nanti. ||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||| Karakter di cerita ini milik @Monsta. Dan video+gambar yang aku cantum bukan milikku. Aku hanya meminjamnya. Maaf jika ada kesalahan kata atau kekurangan. Silahkan berikan kritik dan saran untuk membantu meningkatkan kualitas novel ini. ♡Selamat Membaca♡

More details
WpActionLinkContent Guidelines