[Cernak]  Kisah di Balik Mendung

[Cernak] Kisah di Balik Mendung

  • WpView
    Reads 24
  • WpVote
    Votes 2
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadComplete Sun, Apr 10, 2016
Kisah di Balik Mendung Oleh Dian Rosie Waktu matahari tepat di atas kepala, para penduduk biasanya masuk ke dalam gubugnya. Mereka melindungi anak-anaknya dari terik yang tidak menyehatkan hingga dua jam setelahnya. Kemudian mempersiapkan tempat menampung air. Mereka adalah penghuni sebuah desa bernama Mendung. Konon, di sana tidak ada sumber air yang mengalir. Lalu bagaimana mereka bisa mendapatkan salah satu unsur alam yang merupakan kebutuhan hidup setiap makhluk hidup? Dahulu, pada suatu hari yang panas seekor kupu-kupu raksasa turun membawa sesuatu di atas punggungnya. Para penduduk segera datang, dan tempat air yang mereka bawa dijejerkan. Barisannya pun semakin panjang jika bertambah orang yang datang menantikan giliran mendapatkan air. Akan tetapi, sayang sekali. Meskipun mereka menunggu, Kupu-Kupu tidak membagi air seperti biasanya. Dia memang tidak membawa sesuatu sepulangnya dari sumber ajaib di langit. Selanjutnya....
All Rights Reserved
#127
fabel
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Tolong, Aku Masih di Sini
  • Oh, My Giant [END]
  • A R S E A N A
  • Dewi Tara : The Mystical Forest
  • Kisah Pohon Kayu (KPK)
  • Terdampar Di Pulau Misterius
  • DANADYAKSA
  • Dongeng Sebelum Tidur
  • SARAH STORY

Mereka bilang, jangan pernah main ke hutan itu saat matahari mulai turun. Bukan karena hewan buas. Bukan juga karena tersesat. Tapi karena... tak semua yang berdiam di sana adalah manusia. Di balik pepohonan yang menjulang dan semak berduri, ada satu rumah kosong. Sudah lama tak ditinggali, katanya. Tapi kadang- lampunya menyala. Tirai bergerak. Dan suara tawa terdengar di malam hari. Warga desa memilih bungkam. Anak-anak yang bertanya dibungkam dengan dongeng-dongeng: "Rumah itu milik orang kaya yang pindah ke luar negeri." "Sudah tak ada apa-apa di sana." "Jangan percaya cerita aneh-aneh." Tapi wajah mereka selalu tegang saat menyebutnya. Dan tak ada satu pun yang berani menjejakkan kaki ke tanah itu. Sampai akhirnya, pada suatu sore, Tujuh anak muda tertawa di antara rerimbun hutan, memainkan petak umpet tanpa tahu batas. Langit mulai redup. Angin berubah dingin. Dan salah satu dari mereka... menghilang.

More details
WpActionLinkContent Guidelines