TUJUH MALAM BERBULAN MADU DENGAN KUNTILANAK

TUJUH MALAM BERBULAN MADU DENGAN KUNTILANAK

  • WpView
    Reads 16,010
  • WpVote
    Votes 165
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadComplete Sun, Apr 10, 2016
WpInfo
Fiction
Horror
Menjelang senja, Karto baru terbangun dari tidurnya. Lampu di dalam rumah sudah menyala semuanya. Sementara itu, Sri Kunti barusan saja mandi sambil keramas. Rambutnya yang panjang hingga pinggul masih terlihat basah. Tubuh Karto masih terasa lemah. Seluruh sendi-sendi tulangnya terasa mau copot semua. "Mas mandi dulu, aku sudah siapkan air hangat dan handuk dalam kamar mandi," perintah Sri Kunti.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • SENJA DI PUNCAK TANGKILING
  • TERPAKSA MENIKAH DENGAN BADBOY ( ORINE )
  • Unplanned Pregnancy
  • Rumah Bercat Putih
  • Kisah {Complete}
  •  REMEMBER {Krist x Singto}
  • Air Jernih yang Menghitam
  • Laskar Pemimpi || NCT Dream (on going)

"Jangan menatapku". Abrar masih dengan mata terpejam "Kenapa ?" " Nanti kau bisa lupa pada pacar mu". "Pfffffpfffff" Awinda mengantupkan kedua bibirnya mencegahnya tertawa lebar. "Kau benar ". " Jadi kau sudah punya pacar". " Kau mengintrogasi ku ". Kini Awinda membalasnya. Abrar menelan Salivanya. Terdiam dalam senyapnya. Ia tak ingin melanjutkan pertanyaan apapun. Karena jika ia banyak tahu kenyataan, maka bisa jadi hal - hal pahit yang akan ia dapatkan. Hidup mengajarkannya untuk sering menerima kenyataan pahit ketimbang mengharapkan sesuatu yang ternyata hanya sebatas angan dan impian. "Cepat tidur". "Belum mengantuk" sahutnya cepat. " Kenapa kau biarkan aku mengambil baju dan celana mu padahal kamu punya tenda ini. ? Bodoh ". " Ambil lah apapun yang kau mau dari ku". " Sejak kapan kau menjadi buaya ? " " Setelah masuk kedalam lubang tanah dan bertemu ratu buaya ". Awinda mencubit perut Abrar. Sehingga ia menggelinjang nyeri dan meminta ampun. Ia meraih tangan Awinda dari perutnya dan meletakkannya didadanya. " Tidurlah, ini peringatan ku yang terakhir". Perlakuan Abrar membuatnya meringis, kini Abrar juga mulai mengamcamnya. Berusaha memejamkan mata dan perasaan hangat itu kembali menjalar ulu hatinya. Ia kesulitan untuk menarik nafas namun ia mencoba menghirup udara lewat mulutnya lalu mengeluarkan kembali perlahan. " Kau kedinginan ? " Abrar membuka suara, " Hmmm " "Kau bisa terkena hipotermia dan sulit bernafas".

More details
WpActionLinkContent Guidelines