Penghuni Ke-13

Penghuni Ke-13

  • WpView
    Reads 38
  • WpVote
    Votes 2
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadMatureComplete Mon, Apr 11, 2016
WpInfo
Fiction
Mystery
Dengan langkah cepat aku berjalan menyusuri koridor asrama ini. Betapa berbandingnya suasana saat malam dan siang. Sunyi, senyap, dan hawa dingin menusuk pasca hujan deras tadi sore. Inilah yang aku benci ketika harus pulang malam usai mengikuti kegiatan di kampus. Memang banyak teman yang searah denganku tetapi mereka adalah penghuni asrama lain dan juga rusunawa. Argh, ditambah lagi letak asrama Lahat yang aku tempati agak jauh dari asrama lainnya. Oh hell, Unsri di malam hari sungguh menyeramkan. Akibat terburu-buru aku sempat terjatuh di tangga, hingga kaki kananku sedikit memar. Kriettt terdengar pintu kamarku berderit saat aku mendorong pintu lalu masuk. Sssinngg, seketika terasa angin berdesir di tengkukku dan membuatnya merinding. "Ahh!" Umpatku sedikit kesal dengan suasana ini sembari mengusap-usap tengkuk. Pukul 21.34, para penghuni asrama-- yang hanya 13 orang perempuan--telah berdiam semua di kamar masing-masing termasuk aku. Terdengar alunan kecil lagu Jawa yang d
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Semesta
  • Rahma & Yana
  • Tak Di Anggap Yah?
  • "Tatapan Terakhir yang Tak Kujadikan Pertanda"
  • alxendric and his wounds
  • Jejak Luka Di Bawah Langit Senja
  • "PERJUANGAN CINTA BEDA AGAMA"
  • Lembayung
  • Rainy Day (complete)
  • Aku, Kamu dan Hujan
Semesta

Perkenalan yang tak di duga, perkanalan yang selama ini sudah di nantikan, Perkenalan yang sangat di harapkan, Terima kasih semesta mempertemukan ku dengan "Semesta" yang aku harapkan, inginkan dan Ku nantikan. Hangat nya menyelimuti diriku dari dingin nya udara di luar, tawa nya memberikan dampak yang amat sangat luar biasa, tangis nya membuat keras nya hati ku meringis, marahnya membuat keras kepala ku sedikit terkikis, dan bahagia yang dia berikan cukup membuat Ku takut akan sebuah kata Perpisahan yang sebenarnya itu bisa terwujud kapan saja, dimana saja, dan bagaimana saja caranya.

More details
WpActionLinkContent Guidelines