Entah mengapa jantung ku berdegup dengan sangat kencang, aku melihat ke sekeliling ruangan. Aku mulai berjalan lurus untuk kembali ke kamar. Yahh, siapa yang gak takut kalau malam-malam kayak gini harus ke bangun dari tempat tidur hanya untuk pergi ke kamar mandi. Apalagi ini di tempat asuhan,
Takk,,.. Takk.. Terdengar hentakan kaki di lantai 3.
Setelah mendengar suara tadi kaki ku serasa kram alias mati rasa. Tubuh ku mulai gemetaran. Di dalam hati kecil ku, aku ingin sekali berteriak sekencang-kencangnya. Tapi apa boleh buat, aku hanya bisa berdoa untuk keselamatan ku.
Brakkk..
Takk,.. Takk..
" Oh Tuhan, tolong selamatkan aku dari sini " ujar Veera dengan menahan tangis.
Lampu di sekitar Veera tiba-tiba mati dan tanpa basa-basi Veera berlari sekuat tenaga. Veera sangat ketakutan, tanpa berpikir panjang Veena terus berlari tanpa tujuan. Tanpa dia sadari di depannya terdapat karpet tebal, Veera tersandung dan terguling di lantai. Dia melihat gadis kecil bermuka seram.
ingatan hitam yang menyeruak dan membuka tabir gelap sebuah peristiwa masa lampau yang perlahan merangkak naik dan menunjukkan kilasan kepedihan dari sebuah perjanjian sedarah yang kental. Janur ireng adalah awal dari petaka yang paling di tunggu.