Ketika Takdir Berkata

Ketika Takdir Berkata

  • WpView
    Reads 118
  • WpVote
    Votes 14
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadMatureComplete Thu, Jul 14, 2016
Ada cahaya dalam mata itu, mata yang penuh dengan keteduhan. Senyumnya seakan-akan menghentikan waktu. Dia jauh, sangat jauh untuk bisa ku gapai. Karna selamanya aku hanya bisa berdiri di balik tembok pertahanan yang selama ini ku bangun. Dia, pria paling populer di kampus, dan menjadi most wanted di Fakultas Kedokteran. Wajahnya yg terpahat sempurna bagaikan dewa yunani. Soal kekayaan gak usah di tanya, kekayaannya bahkan cukup untuk menghidupi tujuh turunannya tanpa harus susah payah bekerja. Yah, aku mencintai dia "Rafif Kagami Zaky" Kakak senior dari fakultas ternama, keluarga terpandang, dan paling dikagumi kaum hawa di kampus. Tapi aku masih tahu diri, bahwa sampai kapanpun langitku tak akan pernah berubah. _Raiqah Rachel Queenby_
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • My Little Monster - Completed
  • Give Me Your Heart [ FirstKhaotung ]
  • NOT WITH THE FIRST LOVE
  • Love Forza (End)
  • Arti Sebuah Rasa [ THE END ]
  • Irreplaceable First Love
  • MAS !
  • From Sorrow To Happiness || Mayor Teddy

Mata itu tiba-tiba terbuka dan menatapku. Langsung ke manik mataku. Aduh, copot deh ini jantung. Tali mana tali, buat ikat jantungku biar nggak jatuh. Hiks tolong.... "Kamu jangan pergi, temani aku disini," ucapnya pelan lalu memejamkan matanya lagi. "Hah? Mm... iya," gumamku sambil mengangguk pelan, meski ia tak melihatnya. "Kakak kenapa mabuk?" tanyaku memastikan apa ia bisa di ajak berbicara dengan normal. Lagi pula orang mabuk biasanya akan berkata jujur. Ku pikir dia ada masalah, meski jahat sih jika mendengar curhatan orang yang sedang mabuk, sedangkan aslinya ketika sadar ia akan memusuhiku lagi. Ilsya hanya tersenyum dalam tidurnya. Lantas tak lama bibirnya tiba-tiba melengkung kebawah, terlihat cemberut. Aku nyaris tersedak liur menahan tawa melihat ekspresi wajahnya yang dapat berubah-ubah dengan sendirinya. "Aku nggak suka liat kamu dengan orang lain." Jawabnya dengan raut wajah yang masih sedih. WHAATT?!! Ng-nggak suka, aku dengan yang lain? Sialan Monster ini, meski dalam keadaan mabukpun dia masih bisa membuatku grogi. "Maksud kakak apa?" tanyaku penasaran. "Aku suka kamu, bodoh!" jawabnya lantang, terdengar jelas di telingaku. Jedaaaaaaar...... Siapa yang sangka jika cinta bisa hadir dari rasa benci, dari caci, dari maki. Hinggi bersemi dalam hati tanpa bisa dipungkiri. Cinta ya cinta, tak memandang status, tak mmandang harta, derajat, ras, agama, dan jenis kelamin. Jika cinta telah menancapkan panahnya, siapapun takkan mampu menampiknya.

More details
WpActionLinkContent Guidelines