We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
Ketika Takdir Berkata

Ketika Takdir Berkata

  • WpView
    Reads 118
  • WpVote
    Votes 14
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadMatureComplete Thu, Jul 14, 2016
WpInfo
Fanfic
Miraculous Ladybug
Ada cahaya dalam mata itu, mata yang penuh dengan keteduhan. Senyumnya seakan-akan menghentikan waktu. Dia jauh, sangat jauh untuk bisa ku gapai. Karna selamanya aku hanya bisa berdiri di balik tembok pertahanan yang selama ini ku bangun. Dia, pria paling populer di kampus, dan menjadi most wanted di Fakultas Kedokteran. Wajahnya yg terpahat sempurna bagaikan dewa yunani. Soal kekayaan gak usah di tanya, kekayaannya bahkan cukup untuk menghidupi tujuh turunannya tanpa harus susah payah bekerja. Yah, aku mencintai dia "Rafif Kagami Zaky" Kakak senior dari fakultas ternama, keluarga terpandang, dan paling dikagumi kaum hawa di kampus. Tapi aku masih tahu diri, bahwa sampai kapanpun langitku tak akan pernah berubah. _Raiqah Rachel Queenby_
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • ROMANCE FROM HIGH SCHOOL
  • Blonde & The Cold Heart [TERBIT]
  • From Sorrow To Happiness || Mayor Teddy
  • Irreplaceable First Love
  • NOT WITH THE FIRST LOVE
  • Give Me Your Heart [ FirstKhaotung ]
  • My Little Monster - Completed
  • Tulip
  • Takdir Bersama Kita ! (REVISI)

"Semua tak seperti yang diharapkan. Cinta hanya ada dalam mimpi, cinta hanya ada dalam hati, cinta hanya terungkap dari tulisan ini." "Kali ini pagi menceritakan tentang dingin malam, tentang kopi yang begadang, dan doa-doa sisa air mata." "Ternyata aku masih terlalu mentah untuk mekar bersamamu, aku masih terlalu kanak-kanak untuk mengiringi langkahmu. Untuk lembar-lembar berikutnya, tulislah kisah barumu." "Hari kemarin atau esok sama saja dengan hari ini. Duka dan suka menjadi seirama lagu, matahari di luar, matahari dalam hati menyatu dalam kepiluan sukmaku." "Ada yang meleleh di ujung kedua mataku, begitu goretan-goretan pena itu selesai kubaca. Ternyata bendungan air mataku tidak terlalu kuat sehingga jebol lagi, meski baru sedikit."

More details
WpActionLinkContent Guidelines