SURAT TANPA TITIK

SURAT TANPA TITIK

  • WpView
    Reads 463
  • WpVote
    Votes 15
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadComplete Tue, Apr 19, 2016
Aku terus menerima surat itu. Surat yang selalu kutemu di laci tepat pukul tujuh. Setiap hari, tak pernah berhenti. Selalu ada kata cinta dalam surat itu. Betapa kurasa semakin suka ketika terus membaca surat itu. Kalimatnya, seakan tak pernah bisa kutinggalkan. Tiap kata, kalimat, dan paragraf mataku tak pernah bisa berpaling. Kalimat puitis yang terus mengalir, tanpa titik.... Betapa membuat bergetar dan berdebar... Ya, hari ini, aku akan membaca surat keseribunya.... Tapi, ternyata... Apakah ini surat terakhirnya?
All Rights Reserved
#273
kisahsekolah
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Senandika untuk yang Tak Bernama (GreShan)
  • Dia
  • Ra-Re
  • Saat Aku Melihatmu
  • Cerita Cinta Kyara
  • Tepian Semu || Lilynn✅
  • Sulthan [Revisi]
  • Cinta di Atap SMA
  • Setelah Kita Putus (Sudah Terbit)

Di antara ruang-ruang waktu yang rapuh, ada dua bayang yang saling mengenal tanpa pernah benar-benar berjanji untuk bertemu. Seperti angin yang tak bisa dijinakkan, mereka terjebak dalam pusaran perasaan yang tak terucap-seperti dua kutub yang selalu saling mendekat, namun tak pernah benar-benar menyatu. Shani dan Gracia-dua nama yang berpadu dalam riuh dan hening yang tak berujung. Sebuah kisah yang tumbuh di antara jeda-jeda keheningan dan kesalahpahaman, di mana cinta hadir bukan sebagai sesuatu yang harus dikuasai, tetapi sebagai sesuatu yang terus menguji batas. Dari pertemuan yang tak sengaja, hingga keputusan yang menggantung di antara masa lalu dan masa depan, mereka bergerak dalam ruang yang terperangkap di antara harapan dan ketakutan. Cinta yang pernah lahir di celah-celah keterasingan kini harus dipahami kembali-apakah ia benar-benar bisa menjadi rumah, atau hanya sekadar bayang yang tak bisa digenggam? Dan seperti jejak yang ditinggalkan di pasir pantai yang terus dihempas angin, mereka mencoba mengerti: apakah ini adalah akhir... atau justru awal dari perjalanan yang lebih jauh?

More details
WpActionLinkContent Guidelines