Pretend with my heart /ON HOLD/

Pretend with my heart /ON HOLD/

  • WpView
    Reads 389
  • WpVote
    Votes 22
  • WpPart
    Parts 4
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Oct 29, 2016
Ada saatnya di mana kamu tidak bisa berpura-pura lagi dengan hatimu. Senyuman? Cengiran? Bahkan ekspresi bahagiamu tidak akan bisa menutupi kesedihan yang kamu rasakan di depan orang itu. Seorang cowok yang sudah bertahun-tahun kamu sukai, tapi kamu sendiri sama sekali tidak mengetahui apa sebenarnya yang ada di dalam hatinya. Sama-sama menutupi perasaan masing-masing hingga terasa nyeri di bagian ulu hati. Bahkan air mata pun tak bisa kamu tahan lagi. "Kesedihan itu gak ada gunanya. Cuma buang-buang waktu. Memangnya dia ngerti perasaan gue apa? Nangis? Galau? Buat dapetin cinta dia? Gak banget deh. Cinta itu datangnya dari rasa kasih, bukan rasa kasihan." ~Adara Luciana Yovita. Ada yang lebih menyedihkan dari sekedar 'Menunggu'. Yaitu saling menunggu tapi tidak 'Saling Tahu!'. (Inspirasi tokoh dari Princess Halu) ©Copyright 2016 by intanamel Cover by me
All Rights Reserved
#36
adara
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • You're Here, But Not For Me
  •  DOUBLE R [COMPLETED]
  • BREATHE
  • My Perfect BoyFriend
  • Aku Jatuh dan Cinta
  • Between Us
  • With You 나는 행복�하다
  • Friendzone

Katanya, tatapan bisa bohong. Tapi kenapa setiap kali mataku dan matanya bertemu, jantungku selalu membocorkan semuanya? Aku yang diam-diam menyimpan perasaan, dan dia... entah menyembunyikannya, atau memang belum menyadarinya. Kadang aku berharap dia gak lihat. Tapi kadang juga kecewa waktu dia beneran gak lihat. Lucu ya? Dan aku? Aku tetap di sini. Setiap kali aku melihatnya, aku hanya bisa menatap dari kejauhan, menyembunyikan perasaan yang tak pernah terucap. Aku takut, jika aku mengungkapkannya, semuanya akan berubah. Jadi, aku memilih diam, menikmati setiap momen kecil yang bisa aku curi bersamanya. Aku sering bertanya-tanya, apakah dia pernah merasakan hal yang sama? Namun, aku terlalu takut untuk mencari tahu jawabannya. Karena jika ternyata tidak, aku harus siap menerima kenyataan yang menyakitkan. Aku tahu, ini bukan cinta yang sehat. Tapi bagaimana aku bisa berhenti mencintainya, jika setiap detik aku hanya memikirkannya? Aku mencoba untuk menjauh, untuk melupakan perasaan ini. Namun, semakin aku mencoba, semakin aku terjebak dalam perasaan yang sama. Seolah-olah hatiku menolak untuk melepaskan. Aku membayangkan bagaimana rasanya jika dia tahu perasaanku. Apakah dia akan menjauh, atau justru mendekat? Namun, semua itu hanya ada dalam pikiranku. Aku menulis tentangnya, tentang perasaanku yang tak pernah sampai. Menulis menjadi pelarianku, satu-satunya cara untuk menyalurkan perasaan ini. Karena aku tahu, aku tak akan pernah bisa mengatakannya langsung padanya. Aku hanya bisa diam dan menahan semuanya sendiri. Tapi mungkin, inilah caraku mencintai. Dalam diam, tanpa harapan, tapi penuh ketulusan. Aku tahu, mencintai dalam diam adalah pilihan yang menyakitkan. Tapi aku juga tahu, ini adalah satu-satunya cara agar aku tetap bisa berada di dekatnya. Meskipun hanya sebagai teman, aku sudah cukup bahagia. Karena setidaknya, aku masih bisa melihat senyumnya setiap hari.

More details
WpActionLinkContent Guidelines