Petikan Hati

Petikan Hati

  • WpView
    Reads 7,187
  • WpVote
    Votes 651
  • WpPart
    Parts 63
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Nov 24, 2018
Highest rank #50 #200 in Poetry, April 25, 2017 #309 in Poetry, May 01, 2017 #514 in Poetry, June 25, 2017 Harusnya rintik hujan ini hanya berjatuhan dari langit, rintik dari mata hazel-mu itu tak di perlukan. Cukup langit saja yang menampakkan kekesalannya; petir, Sikapmu cukup tenang. Dan cukup pula dengan angin yang sibuk berlalu-lalang mengudarakan setiap kepastian. Angin yang membawa pergi beberapa kenangan, Kamu yang membuat begitu banyak angan, Aku yang berusaha agar Kita tidak sekedar menjadi khayalan, Kita yang tidak tahu Siapa yg harusnya di Salahkan. Cover by WritersID © copyright 2016, Beautyword.
All Rights Reserved
#217
religion
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Pertemanan di balik Kutukan [On Going]
  • The Beginning In Our Forever
  • Catatan Tentang Hujan
  • Self Injury's(complete)✔
  • Raihan dan Naura [END]
  • Regrets of Love
  • CAPTAIN TO JANNAH (SUDAH TERBIT)
  • The Rain
  • Magnolia Wedding [SUDAH TERBIT]
  • Cold Love

🥀Cerita ini 100% karangan dari saya sendiri jadi mohon di hargain, jika memang tidak suka maka tidak usah di baca dan jika suka jangan lupa beri vote dan komen yaksss!!! ⚠️ INGAT DI LARANG PLAGIAT, COPY PASTE, MENIRU, MENJIPLAK, ATAU SEJENIS NYA. DON'T! Saya mungkin tidak tahu tapi allah tahu. Rintik hujan perlahan jatuh dari langit kelabu, tetesannya menimpa tanah kering dan retak, menciptakan lingkaran-lingkaran kecil yang segera lenyap bersama debu. Namun tak lama, langit seolah tak sanggup lagi menahan kesedihannya. Hujan turun semakin deras, membasahi tubuh seorang gadis yang berdiri diam di tengah kehancuran. Luka menganga di hampir seluruh kulitnya, darah mengalir perlahan, menyatu dengan air hujan yang mengalir di tanah. Namun ia tetap tak bergerak. Pandangannya kosong, tatapan hampa tanpa harapan, seolah jiwanya telah pergi jauh meninggalkan raganya yang lelah. Di sekelilingnya, dunia yang dulu penuh kehidupan kini tinggal puing dan arang. Tanah yang dulu dihiasi hamparan rerumputan hijau telah terbakar hingga hitam dan tandus. Pohon-pohon yang dulunya menjulang kokoh kini rebah, patah, dan hangus, tak menyisakan satupun daun yang selamat. Segala yang dulu indah, kini lenyap tanpa jejak, tersapu oleh sesuatu yang lebih kejam dari waktu, kehancuran yang tak memberi ampun. "Aku menghancurkan semuanya ... Aku seorang monster!" bisiknya lirih, dan setetes air mata mulai mengalir keluar dari ujung matanya, tak bisa dibedakan apakah itu air hujan atau air penyesalan. "Aku menyakiti orang-orang, aku membunuh orang tak bersalah ... Aku benar-benar seorang monster!" Air matanya menetes, bercampur dengan darah dan hujan. Dan dari bibir pucatnya, hanya satu kalimat yang terus berulang kali dia ucapkan, seperti sebuah mantra penyesalan yang tak berujung. "Maaf ... maafkan aku ... maaf ...." Dibuat : Rabu/13/April/2023 Selesai : ??? Written by :AYA_MNK ©hak cipta dilindungi Allah SWT

More details
WpActionLinkContent Guidelines