Sunflower

Sunflower

  • WpView
    Reads 1,954
  • WpVote
    Votes 517
  • WpPart
    Parts 22
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Dec 28, 2020
Lia menyukai bunga matahari, karena bunga matahari mengingatkannya pada mendiang ayahnya, mataharinya. "Bunga matahari selalu mengikuti arah datangnya matahari. Sifat bunga matahari ini memberi arti kesetiaan dan ketaatan pada kodrat seseorang tanpa ada protes. Jadi, apapun takdir Tuhan untuk Lia, Lia harus tetap tegar dan selalu tersenyum." "Bunga matahari itu indah, karena warna kuningnya melambangkan kegembiraan dan kebahagiaan. Jadi, kalau Lia ingin cantik dan indah, Lia harus menjadi anak yang ceria, dia tidak boleh bersedih lagi. Janji?" Lia kecil tidak begitu paham dengan perkataan ayahnya, namun satu hal yang diingatnya adalah ayahnya berjanji akan menjadi anak yang ceria. Namun, sejak pernikahan itu, kengerian, keegoisan, dan penderitaan mendominasi dirinya. Keceriaannya memudar, seiring layunya bunga matahari. Bunga matahari memang sudah layu, namun bukan berarti dia tidak bisa menanam yang baru. Dan satu hal yang harus ia pahami, pupuk akan membantunya tetap subur. Pada dasarnya semua manusia itu baik. Kenangan buruk di masa lalu, serta penderitaan bisa mengubah seseorang menjadi pribadi yang egois. Dalam sebuah cerita rasanya sangat pas jika tokoh utamanya baik, namun tidak selalu tokoh utama adalah protagonis, karena pada kenyataannya tidak ada manusia yang sempurna. . SELAMAT MEMBACA...
All Rights Reserved
#40
ceritasekolah
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Angkasa (Forget Me Not)
  • LANGIT JINGGA (TAMAT)
  • When the Rain Stops Following Me
  • Fence: Keluarga itu Ibarat Pagar
  • PESTA SUNYI (TERBIT)
  • 8 Remaja 8 Anugerah
  • STAY HERE [Lengkap]
  • AIR MATA AWAN || YU JUNWON

"Bunganya udah layu, Sa. Yakin mau dibeli? Nanti sampai rumah juga mati." "Gak apa-apa. Gw pastiin bunga ini gak akan mati. Layu bukan berarti mati, kan? Gw bakal rawat bunga ini... terus kasih ke Ayah." Ia tidak memilih mawar, tak pula melati. Hanya bunga kecil yang nyaris mati-seperti dirinya sendiri. Hari demi hari, ia rawat bunga itu seakan sedang menjaga harapan yang hampir padam. Rapuh, tapi belum sepenuhnya punah. Namun di Hari Ayah, harapan itu kembali layu. Bunga itu ditolak, bahkan sebelum sempat menyampaikan maksudnya. Dan malam itu... ia tak pernah pulang. Namun nyatanya, Tuhan itu adil. Setelah semua luka, setelah semua kejatuhan... Tuhan menghadirkan satu suara-yang tak menghakimi, tak pula menuntut. Hanya berkata pelan: "Sama gw, Sa. Sama gw terus. Kalo boleh berharap, semoga suatu hari nanti gw bisa jadi alasan lo buat pulang." Angkasa (last flower) "Forget me not" Warning ⚠️ Thriller × Angst × Crime !!! Cerita ini mengandung unsur thriller yang menegangkan, serta banyak adegan kekerasan, darah, kriminalitas, dan teka-teki. Harap bijak dalam memilih bacaan. ‼️⚠️

More details
WpActionLinkContent Guidelines