Lia menyukai bunga matahari, karena bunga matahari mengingatkannya pada mendiang ayahnya, mataharinya.
"Bunga matahari selalu mengikuti arah datangnya matahari. Sifat bunga matahari ini memberi arti kesetiaan dan ketaatan pada kodrat seseorang tanpa ada protes. Jadi, apapun takdir Tuhan untuk Lia, Lia harus tetap tegar dan selalu tersenyum."
"Bunga matahari itu indah, karena warna kuningnya melambangkan kegembiraan dan kebahagiaan. Jadi, kalau Lia ingin cantik dan indah, Lia harus menjadi anak yang ceria, dia tidak boleh bersedih lagi. Janji?" Lia kecil tidak begitu paham dengan perkataan ayahnya, namun satu hal yang diingatnya adalah ayahnya berjanji akan menjadi anak yang ceria.
Namun, sejak pernikahan itu, kengerian, keegoisan, dan penderitaan mendominasi dirinya. Keceriaannya memudar, seiring layunya bunga matahari. Bunga matahari memang sudah layu, namun bukan berarti dia tidak bisa menanam yang baru. Dan satu hal yang harus ia pahami, pupuk akan membantunya tetap subur. Pada dasarnya semua manusia itu baik. Kenangan buruk di masa lalu, serta penderitaan bisa mengubah seseorang menjadi pribadi yang egois. Dalam sebuah cerita rasanya sangat pas jika tokoh utamanya baik, namun tidak selalu tokoh utama adalah protagonis, karena pada kenyataannya tidak ada manusia yang sempurna. .
SELAMAT MEMBACA...
Fondasi terkuat dari tiap pasangan yang ada di muka bumi ialah seorang anak. Di anugrahi seorang anak memanglah membahagiakan tapi bukan berarti anak itu harus di kucilkan apabila ia tak sanggup tuk raih apa yang orang tuanya mau.
Seperti anak sulung keluarga .... yang selalu di tuntut ini dan itu, yang selalu di minta untuk sempurna, yang di minta untuk mengharumkan nama baik keluarga, yang selalu di cap salah dalam hal yang ia lakukan. Bahkan kesalahan yang di perbuat belum tentu menjadi kebwnaran bahwasannya anak malamg itu bersalah.
Tidakan ini justru tanpa di sadari, membuat anak sulung itu juga akan rapuh, tak selamanya ia dapat menjadi sempurna ia akan mendapat kekurangan, tidak selamanya ia dapat mengharumi nama baik keluarga.
Ia juga manusia yang mudah rapuh, jangan terus tuntut ia melakukan hal yang tidak selalu dirinya bisa untuk lakukan, jangan buat anak itu di benci oleh orang terdekatnya akibat tingkah para orang tua yang membatasi kesosialitaannya pada dunia luar selain rumah. Biarkan ia mendapat sandarannya sendiri untuk menangis dan bercerita, biarkan ia bebas sejenak dari kata-kata yang terombang-ambing dalam pikirannya.
Jangan paksakan banyak hal pada dirinya.
''Ayah, Bunda, maaf- Esa belum bisa jadi anak yang baik buat kalian ...''
''No, udah dulu ya, Nak. Nanti dadanya sakit, Esa itu anak paling hebat yang pernah ayah miliki.''
''Esa, sayangnya Bunda. Semangat terus ya biar bisa bareng lagi sama kita. Nanti Bunda janji bakal bawa sama masakin semua yang Esa mau, oke!?''
''Bang, Esa ... Jidan mau abang temenin main nanti.''