We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
Wedding

Wedding

  • WpView
    Reads 72
  • WpVote
    Votes 1
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Apr 21, 2016
WpInfo
Fanfic
Attack on Titan
>>Prolog Setiap detik yang melecuti semangat. Demi sebuah impian yang kini berputar - putar dalam benak. Lily Historia. Gadis kecil yang terinspirasi keharmonisan rumah tangga yang dijalani pasangan Rahma Maulida dan Trianda Sugito, orang tua angkat yang mengadopsi dirinya dari panti asuhan sejak umur empat tahun. Kerapkali, Lily mengandaikan dirinya menjadi Rahma Maulida, ibu angkat yang biasa ia sebut Bunda Rahma kelak jika ia dewasa. Ia begitu mencintai sosok bundanya yang penuh cinta kasih kepada Ayah Trianda juga dirinya, anak angkatnya. Cintanya murni tanpa pandang bulu. Kesabarannya seperti tanpa ujung. Tak pernah seorangpun dari kami meragukan ketulusan hati dan sikap baiknya. Kami merasa beruntung memilikinya. Dan dari sinilah, seorang Lily kecil mengawali impian sederhananya. Menjadi istri yang baik untuk suaminya, serta ibu yang sayang pada anaknya.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Mr. & Mrs Albrecht
  • Menikah Tanpa Cinta [TAMAT] REPOST
  • Angkasa #1 Unstoppable Love Series
  • A Time For Joy
  • Their Marriage Agreement (The Wedlock Series #3)
  • YOU ARE MY MIRACLE ( MIRACLE SERIES #3 ) (COMPLETED)
  • My Devil Husband
  • Forgetting Not Forgotten
  • Entertainer
  • Janda Selalu di Depan

Arga baru saja melangkah keluar kamar, ponsel yang sempat tertinggal kini sudah di tangan. Namun begitu ia membuka pintu, langkahnya terhenti. Sosok itu sudah berdiri di ambang pintu-dengan senyum licin yang terselip di sudut bibir merah basahnya. "Mas, sebentar..." ucapnya lirih, lalu tanpa ragu memutar kunci pintu hingga terdengar bunyi klik yang terasa nyaring di tengah keheningan. Ia lalu berbalik, perlahan, seperti sengaja mempermainkan waktu. Tatapannya menusuk tajam, lembut tapi memabukkan. Langkahnya mendekat, tumit sepatu kecilnya menjejak lantai dengan bunyi halus yang menggema di kepala Arga lebih dari yang seharusnya. Ia mendekat... dan terus mendekat-hingga napasnya menghangat di kulit wajah Arga. Saat jarak hanya tersisa desah, ia berjinjit lalu melingkarkan tangannya ke leher Arga. Tubuh mereka kini bersatu tanpa celah, dan hidung mereka bersentuhan. Arga yang refleks merangkul pinggang ramping itu tahu, ini adalah awal dari sebuah ujian yang tak diajarkan di kitab-kitab kuning pesantren. "Aku lagi pengen, Mas. Sekarang," bisiknya nyaris tak terdengar, namun cukup untuk membuat darah Arga mendidih pelan. Bibir itu mencium bibirnya-hangat, basah, berani. Bukan ciuman biasa. Ciuman perempuan yang tahu pasti bagaimana caranya merobohkan benteng pertahanan laki-laki yang selama ini berdiri dalam istighfar. Arga sempat hanyut, meski sesaat. Tapi nurani santrinya masih hidup. Ia menarik diri perlahan, menyisakan napas yang masih beradu, dan dekapan yang belum ingin dilepas. "Jangan di sini... rumah Ayah, nanti mereka nunggu kita kelamaan," bisiknya, berusaha terdengar tenang padahal dadanya bergemuruh. "Mereka pasti ngerti. Kita suami istri, kan?" bisiknya menggoda. "Sekali aja, Mas... aku udah nahan dari tadi. Aku pengen kamu. Banget." Arga menunduk. Nafasnya dalam. Istighfar meluncur di batin, cepat dan berulang. Tapi yang satu ini bukan setan-ini godaan yang berwujud indah, harum, dan nyata.

More details
WpActionLinkContent Guidelines