Cowok Permen  Karet

Cowok Permen Karet

  • WpView
    LECTURAS 22
  • WpVote
    Votos 0
  • WpPart
    Partes 1
WpMetadataReadContinúa
WpMetadataNoticeÚltima publicación vie, abr 22, 2016
WpInfo
Ficción
Romance
>>Prolog "Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh." Jeda. "Satu, dua, tiga, empat, lima." Jarinya menyusur simetris ke kanan. "Tujuh sama lima kalo di kali, jadi tiga puluh lima." Ujar Tito bergumam. "Ini lebih dua." Sambungnya lagi. "Jadi semuanya tiga puluh tujuh." Akhirnya Tito manggut - manggut sok tahu. Sisa permen karet yang sudah Tito kunyah itu tertempel tidak elit di kolong meja sekolahnya. Bentuknya macam - macam. Ada kotak, persegi panjang, bulat, segitiga, bahkan ada juga yang berbentuk hati, alias love. Dari sekian banyaknya bekas permen karet itu di tempel, Tito sengaja membuat garis turun dan mendatar. Agar memudahkan Tito menghitungnya nanti. Dan permen karet yang terakhir ia tempelkan barusan sudah ia bentuk menjadi gambar hati. Seperti keadaan perasaannya yang saat ini tengah membuncah bahagia. Karena kehadiran seorang siswi baru di kelasnya. Adanya dia menimbulkan banyak hiburan juga tragedi. Dan itu memang sengaja dibuatnya. Ulah yang sengaja di buat - buat Tito, dan kawan - kawannya tentu saja. Awalnya, Lulu Khalida--siswi baru di kelasnya tak menggubris ulah bocah - bocah berandalan itu. Hingga pada suatu saat kejadian yang Lulu pikir sudah mencapai ambang batas kesabarannya telah dilakukan Cowok Permen Karet itu menyulut amarah dan menginjak - injak harga dirinya. Dan sejak saat itu, Lulu sudah memutuskan jika Tito adalah teman laki - laki yang harus selalu diwaspadai dan amat sangat dibencinya.
Todos los derechos reservados
#531
roman
WpChevronRight
Únete a la comunidad narrativa más grandeObtén recomendaciones personalizadas de historias, guarda tus favoritas en tu biblioteca, y comenta y vota para hacer crecer tu comunidad.
Illustration

Quizás también te guste

  • Seratus Meter Dari Hatimu
  • My Illegal Boyfriend
  • ALDEN & ALAYA || END
  • Sailing With You [END]
  • Jejak Hati di Persimpangan Takdir
  • ALLASSO (END)

Seratus Meter dari Hatimu Dulu, kupikir jarak paling rumit adalah antara dua kota. Antara kampung halaman dan ibu kota. Antara kenyamanan yang kutinggalkan dan dunia baru yang sedang kucoba taklukkan. Tapi ternyata, jarak yang paling sulit bukan soal kilometer atau waktu tempuh. Jarak paling rumit adalah seratus meter dari hatimu-tempat aku berdiri, tapi tak pernah benar-benar kau sadari. Segalanya berawal biasa saja: kos baru, teman sekamar yang bawel tapi hangat, lingkaran pertemanan yang mengisi hariku dengan tawa, tugas, kopi sachet, dan obrolan tengah malam. Aku merasa cukup. Nyaman. Aman. Hingga seseorang hadir dengan caranya yang tak terduga. Terkadang ceplas-ceplos, kadang diam dan terlihat jauh. Dia bukan tokoh utama di hidupku, bukan pula pangeran dalam kisah dongeng. Tapi entah kenapa, perhatian kecilnya terasa seperti rumah dalam keriuhan kota. Sayangnya, tak semua rasa harus tumbuh. Dan tak semua perhatian berarti istimewa. Ini kisahku, Caca. Seorang mahasiswi yang mencoba bertahan di antara tumpukan tugas, tawa tongkrongan, dan teka-teki bernama Arvin. Ini tentang dua circle pertemanan, dua sisi dunia, dan satu rasa yang pelan-pelan ingin ku bungkam. Karena terkadang, menyukai seseorang tak harus dimiliki. Cukup dilihat dari kejauhan-seratus meter, atau bahkan lebih.

Más detalles
WpActionLinkPautas de Contenido