MEMOIR OF NAYA

MEMOIR OF NAYA

  • WpView
    Reads 315
  • WpVote
    Votes 19
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, May 29, 2016
WpInfo
Non-Fiction
Saat itu kebahagiaan sedang terpampang di hadapanku, tidak ada keinginanku menatap ke arah lain. Seperti seekor kuda yang dipakaikan kaca mata, arah yang bisa dilihatnya hanya arah di depannya. Tapi, takdir itu memaksaku menatap ke arah lain. Melemparkanku dalam kesadaran bahwa dunia ini tidak hanya dipenuhi dengan kebahagiaan, keceriaan dan kenyamanan. Sebuah kesadaran usang mengingat keburukan dan bencana banyak berserakan di sekitar kehidupan manusia. Waktu kehidupanku seketika berhenti. Semua harapan, cita-cita dan mimpi tidak lagi memiliki arti. Aku bahkan rela menukarkan semua itu asalkan ini hanyalah sebuah mimpi. Sayangnya ini bukanlah mimpi. Aku lumpuh, aku tidak berdaya. Seperti sebuah bendungan yang jebol, air mata ini tidak kuasa kutahan. Melunturkan warna-warni keceriaan dalam hidupku, melumerkan bongkahan kebahagiaan di kehidupanku, menenggelamkanku dari pelampung kenyamanan yang selama ini membuaiku. "Kenapa harus dia, Ya Allah. Kenapa?" "Memangnya siapa kamu?! Berani-beraninya mempertanyakan keputusan Tuhanmu!" hati nuraniku memarahiku. "Aku mencintainya!" aku berteriak lantang. "Sebesar apa? Sebesar cinta Tuhannya kepadanya?" Aku tersungkur, aku menangis. "Aku hanya ingin membahagiakannya." "Berapa lama kamu sanggup membahagiakannya? 50 tahun? 100 tahun? Tuhannya sanggup memberinya kebahagiaan selama-lamanya." Tangisku semakin keras. "Kamu tahu ini pasti akan terjadi. Semua manusia tahu ini pasti akan terjadi. Lalu apa sebenarnya yang sedang kamu tangisi? Dirinya atau dirimu?" Ya Allah, Ijinkan aku tetap mencintainya, Ijinkan aku tetap menyimpan kenangan bersamanya, Ijinkan aku . . . . . . Dari titik ini, aku tahu hidupku akan berubah. Semua hal dalam hidupku akan memiliki arti dan definisi baru. Orang barat menyebut ini sebagai The Power of Lost. Aku lebih suka menyebutnya, Kesadaran Diri. (Menulis biasanya akan membuat saya merasa tenang, tapi tidak untuk yang satu ini. Kenapa? Ijinkan itu tetap menjadi milik saya.)
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • "ARGON" Untukmu Bidadari Hatiku
  • EGLANTINE ㅡ'Na Jaemin'
  • Close Your Eyes (Sehun - Jieun) (End)
  • Self Injury's(complete)✔
  • Mahligai Sunyi
  • Caca

semua kisahku bermula saat pertama engkau hadir dihadapan mataku. wajah itu tak pernah hilang dari bayangan anganku. selalu menghanyut senyummu dalam kalbuku. semua kisah puisi hanya menggambarkan tentang keindahan dirimu. tak pernah bosan tanganku menulis untukmu. tak pernah lelah jemariku melukiskan indahnya parasmu. sinar mentari,tiupan angin,desiran rumput,kemersik daun,kicauan burung,gemercik air, bag menggambarkan pesona indah parasmu. alunan seruling bambu,senduh dentingan gitar, terus mengiringi merdu suaramu dalam relung hatiku. tak pernah lupa selalu terngiang dalam kepalaku " bang Ar!". setiap saat, setiap hari, aku berusaha selalu ada untukmu. menjagamu sekeras apa pun, membimbingmu sejauh apa pun, menuntunmu sesulit apa pun. bagai sepasang merpati yang selalu terbang beriringan, bagai sepasang kelinci yang selalu melompat bersamaan. namun, aku hanyalah akar untukmu. yang menopangmu, menjaga agar kau tetap berdiri.namun, aku hanyalah aliran air untukmu. yang menjadi wadah untukmu berenang semakin jauh. senyummu adalah bahagia untukku, namun tangismu bukanlah sedihku. karena aku harus kuat untuk membuatmu tersenyum sepanjang hari. hingga kau melantunkan suara merdumu "bang Ar!". namun, bagai dentuman guntur di siang bolong, bagai derasnya hujan di panas terik. semua berubah karena ke egoisanku. karenaku, bunga yang indah mekar kini layu dan gugur. karenaku, angin sepoi peniup melodi kini menjadi badai topan yang ganas. yang tinggal hanya dentingan pedang yang beradu, hanya desingan peluru yang memburu. saling membekas luka, menyayat sembilu dalam relung hati. menjatuhkan merpati, membinasakan kelinci, menumpahkan darah di sepanjang perjalanan yang tersisa. kini hanya ada akar tanpa pohon, air tanpa ikan, dan selembar kertas putih. kini yang terbakar hanya amarah yang mengatakan "tolong jauhi aku!".

More details
WpActionLinkContent Guidelines