Dia Ayah
  • WpView
    LETTURE 23
  • WpVote
    Voti 1
  • WpPart
    Parti 1
WpMetadataReadIn corso
WpMetadataNoticeUltima pubblicazione dom, mag 1, 2016
WpInfo
SAGGISTICA
Pak Halim menatap hangat wajah Bulan. Tanganya tergerak membelai kepala putrinya. Hatinya teriris mengingat kekecewaan sang putri terhadapnya. Pak Halim menangis sembari tetap membelai lembut kepala dan punggung sang putri. Siapa yang baru saja mengusap punggungku? Aku kenal sentuhan itu! Yang pasti itu bukan ibu! batin Bulan yang terjaga dialam bawah sadarnya. Bulan membuka mata dan menemukan sumber sentuhan hangat itu. "Dia Ayah," ujarnya haru.
Tutti i diritti riservati
Entra a far parte della più grande comunità di narrativa al mondoFatti consigliare le migliori storie da leggere, salva le tue preferite nella tua Biblioteca, commenta e vota per essere ancora più parte della comunità.
Illustration

Potrebbe anche piacerti

  • BULAN (END)
  • Pelangi untuk Hujan(on going)
  • Garvi Hinggap di Bulan
  • SELENOPHILE
  • Aku & Kamu Kita
  • Puing luka
  • Kau lah Kakak Terbaikku! (END)
  • HeartBeat
  • Menepilah Cinta

Bulan sosok yang terlahir dengan sejuta kasih sayang, namun pada ahkirnya ia kehilangan sejuta kasih sayang tersebut. Takdir mempermainkan dirinya dengan baik, menyisakan kesedihan di dalam kehidupannya. Menyisakan goresan-goresan yang tidak ia ketahui kapan goresan tersebut akan menghilang, hingga ahkirnya membawa pemeran lain ke dalam kisahnya. Seorang pria yang terlihat dingin_Max. Keduanya hidup dalam permainan takdir yang sama, membawa keduanya kedalam hubungan yang sangat sulit untuk dipahami. Mengharuskan keduanya menjalani takdir agar mendapatkan ahkir dalam cerita keduanya, namun siapa sangka jika takdir akan kembali mempermainkan keduanya dengan tamparan yang lebih kuat lagi. Membuat semuanya kembali terluka dengan alasan yang sama. Takdir kembali berulah,,, "Mama menjebak aku?" Tanya Bulan dengan raut wajah yang tidak bisa di katakan lembut, raut wajahnya penuh dengan marah. "Sayang dengarkan Mama, Mama akan menjelaskan semuanya." Bujuk wanita paru baya_Vivi yang mencoba memegang tangan menantunya. "Jangan sentuh aku." Teriak Bulan sambil menangkis tangan mertuanya. "Jaga tingkah kamu. Dia Mamaku!" Teriakan pria itu begitu lantang dan hanya di tanggapi senyum kecewa oleh Bulan. "Kamu sama saja Max, aku sangat membenci kalian." Ucap Bulan dengan mata yang memancarkan masih memancarkan kekecewaan, tapi percayalah rasa kecewa yang ia rasakan kini lebih besar dari dari pada rasa amarahnya. . . . . Bulan & Max Selesai Revisi Jumat 13 November 2020

Più dettagli
WpActionLinkLinee guida sui contenuti