In Your Arms

In Your Arms

  • WpView
    Odsłon 47,810
  • WpVote
    Głosy 1,035
  • WpPart
    Części 7
WpMetadataReadW trakcie
WpMetadataNoticeOstatnia publikacja wt., paź 29, 2013
WpInfo
Fikcja
Romans
“Jangan pernah lagi menggangguku ! Apapun yang aku lakukan jangan pernah ikut campur ! Aku tidak peduli kau mau apa ! Dengar baik-baik, aku menikah denganmu itu karena terpaksa, karena Oma ! Jadi jangan berharap aku akan mencintaimu dan memperlakukanmu seperti seorang istri. Itu tidak akan pernah terjadi ! Setelah tiga bulan aku akan segera menceraikanmu ! Bagiku kau hanya anak pungut dari panti asuhan, jadi jangan harap kau akan bisa menjadi bagian dari keluarga Anggara”, Alvon meraih ponselnya dari tanganku dengan kasar dan meninggalkanku yang masih membeku terdiam mendengar ucapanya yang penuh dengan ancaman. Hatiku berdenyut sangat nyeri, tak tahan lagi mataku menjatuhkan butiran kristal-kristal dengan derasnya.
Wszelkie Prawa Zastrzeżone
Dołącz do największej społeczności pisarskiejOtrzymuj spersonalizowane rekomendacje dzieł, zapisuj ulubione dzieła w bibliotece oraz komentuj i głosuj, aby rozwijać swoją społeczność.
Illustration

To może też polubisz

  • THE VIP : GOLDEN HIGH SCHOOL
  • Ilusi
  • Something Between Us
  • Cinta Dan Lukanya
  • About Is Love
  • Promise
  • Amor Eterno
  • ALVINA
  • Nara [SUDAH TERBIT]
  • Stay (Away)

Sekolah. Sekedar- ladel atau judul untuk bangunan yang menjulang tinggi yang menerima ratusan remaja yang katanya menuntut ilmu pendidikan. Apa itu sekolah? Yang ia tahu tempat ini adalah jelmaan neraka yang menggerogoti jiwa pelan-pelan. "Lo!!! Benar-benar licik!!" Teriakan itu meledak ke udara penuh emosi yang tidak bisa di jelaskan. "Hahahaha." Tertawa menggema, palsu, dan nyaring. Tangan terangkat menghapus jejak air mata gaib, padahal tidak ada air mata yang turun dari netra cokelatnya, mata itu kering tangis itu hanya sandiwara. Tawanya padam secepat kilat, seketika wajah itu berubah serius, seolah tidak pernah mengenal tawa. "Thanks for the praising to me." Wajah yang tadinya tertawa ceria langsung tergantikan dengan wajah yang berubah dingin, bahkan aura mengintimidasi mencekam lawan. "Gue nggak suka basa-basi," katanya pelan tapi menusuk. "Keluar dari sekolah ini dan point lo untuk gue! Atau......." Senyumnya miring dan beracun terukir. "Scandal lo gue sebar," tersenyum smirk. Menatap wajah gadis di depannya yang sudah pucat. "Lo ngancem gue??" Sebisa mungkin siswi bernama Velena itu terlihat berani. Ia tidak mau kelihatan takut di depan gadis dengan tai lalat di ujung mata kanannya itu. "No!" "Hanya memberikan saran," ujarnya santai." Saran gue ini bagus, nyelametin lo dari rasa malu, kedepannya."

Więcej szczegółów
WpActionLinkWytyczne Treści