QUOTE
  • WpView
    Reads 162
  • WpVote
    Votes 19
  • WpPart
    Parts 6
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Oct 20, 2016
Bukan kata penenang. Bukan pula kata merayu. Ataupun kata penjilat kata-kata. Mungkin, ini hanyalah coretan hasil kata-kata renunganku. Yang menurutku bagus. Kamu mungkin lebih muda atau bahkan lebih tua dari ku. Pengalamanmu bisa jadi lebih banyak atau lebib sedikit dariku, disini aku hanya ingin merangkai kataku menjadi sebuah goresan tulisan yang sederhana dengan jutaan tersirat di balakangnya. Aku harap, kalian bisa merenungkan kata-kataku. Atau bahkan menertawakan karya ku. Aku harap, kalian menghargai goresan ku entah itu berbentuk apapun. Life not like a fairy tale, but life like a 'tukang bubur naik haji' yang mengajarkan kita bahwa segala sesuatu itu akan terjadi bila kita usaha. Regard's, Elz
All Rights Reserved
#62
aman
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Empty | 00L NCT Dream
  • Broken melodies
  • Senyawa Abu-abu { F I N I S H }
  • Rumah Tanpa Pintu [ON GOING]
  • Kawin Kontrak? [COMPLETED]
  • Buku Ini Gak Konsisten, Tapi Ya Sudahlah
  • Untung Sayang
  • Elsreyna
  • ABSURD QUOTES II

Di panti asuhan adalah hal yang bahagia untuk mereka. Byan yang tidak tau keberadaan kedua orang tuanya dan hanya di nafkahi oleh kakek dan neneknya yang sedang mengurus perusahaan di luar kota bahkan luar negeri, Arlen yang jarang bisa merasakan kehangatannya sebuah keluarga dan hanya bisa merasakannya saat runtuh atau berhasil, Galih yang merupakan anak dari ibu dan bapak dari panti asuhan dan merupakan anak tunggal, dan yang terakhir adalah Juna yang tidak tau arti kehangatan keluarga sebenarnya itu apa. Punya banyak teman, punya adik-adik asuh, juga bertemu dengan banyak orang tua yang terpaksa menitipkan anaknya ke panti untuk urusan di luar kota bahkan ada yang sampai di luar negara. Bagi Byan, bertemu dengan teman-temannya adalah keberkahan sesungguhnya. Kalau ada yang mau merawatnya pun, dia tak butuh. yang di butuhkan adalah tiga sahabat nya. Mereka sudah saling bergantung satu sama lain. Bahkan kalau bisa, Byan menyerahkan hidupnya demi kebahagiaan sahabatnya. "Sahabat gue harus tau rasanya kebahagiaan." -Byan "Kita itu satu. Kita tetap kita. Empat tetap empat. Ga kurang, ga lebih." -Arlen "Yang gue butuh itu kalian. Gue butuhnya kalian. Selain kalian, ga ada lagi!" -Galih "Dari kecil bareng, sedih bareng, main bareng, nangis pun bareng. Makan aja kadang bareng. Kalau mati? gue sendiri aja. Lo semua bahagia aja dulu, ya?" -Juna [100% FICTION] [Friendship] [Harsh words]

More details
WpActionLinkContent Guidelines