QUOTE
  • WpView
    Reads 162
  • WpVote
    Votes 19
  • WpPart
    Parts 6
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Oct 20, 2016
Bukan kata penenang. Bukan pula kata merayu. Ataupun kata penjilat kata-kata. Mungkin, ini hanyalah coretan hasil kata-kata renunganku. Yang menurutku bagus. Kamu mungkin lebih muda atau bahkan lebih tua dari ku. Pengalamanmu bisa jadi lebih banyak atau lebib sedikit dariku, disini aku hanya ingin merangkai kataku menjadi sebuah goresan tulisan yang sederhana dengan jutaan tersirat di balakangnya. Aku harap, kalian bisa merenungkan kata-kataku. Atau bahkan menertawakan karya ku. Aku harap, kalian menghargai goresan ku entah itu berbentuk apapun. Life not like a fairy tale, but life like a 'tukang bubur naik haji' yang mengajarkan kita bahwa segala sesuatu itu akan terjadi bila kita usaha. Regard's, Elz
All Rights Reserved
#57
katabijak
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Kawin Kontrak? [COMPLETED]
  • Langit Yang Merenggut Cinta
  • [ √  ] AMERTA ¦ Ft Huang Renjun
  • ABSURD QUOTES II
  • Untung Sayang
  • Arshaka Heizen Lergan
  • Broken melodies
  • Rumah Tanpa Pintu [ON GOING]
  • sraddah (on going)
  • Alenara; Living in a Fairy Tale

[COMPLETED] "Jadi lelaki itu yang akan dijodohkan ibu denganku? Tega sekali, Ibu," gerutuku. Aku semakin membulatkan tekadku untuk menolak ini. Tanpa kusadari, ibu melihat ke arah jendela kamarku dan melihatku kesal. Beberapa saat kemudian, terdengar suara pintu kamar diketuk. "Baby, buka pintu!" Pintanya tegas. Aku pun membukakan pintu. Lalu menelungkupkan badanku di atas kasur. Ibuku menarik kursi belajarku mendekat ke arahku dan memandangiku, lalu berkata pelan padaku. "Kau tahu sendiri kan kebiasaan di sini? Kau juga tahu asal usulmu? Kau paham betul, bagaimana ibumu ini bertahan? Semua karena ibumu ini sepakat dengan norma di sini. Mana mungkin kita bisa hidup cukup seperti ini kalau tidak mengikuti itu semua. Baby, kau tahu itu semua. Harusnya kaupun seperti ibumu ini, ikut arus itu." Melihatku tidak memandangnya, ibu terus mengatakan hal-hal yang sebenarnya kami berdua sama sama tahu. "Ibu menikah dengan bapakmu ketika seusiamu. Dengan itu, ibu bisa memiliki rumah ini dan seperangkat alat jahit. Ibu mampu membesarkanmu, menyekolahkanmu, memenuhi segala keinginanmu, dan tidak pernah menyusahkan orang lain. Kau memang tidak pernah bertemu bapakmu, tapi ibumu ini sudah bercerita tentangnya." "Kita hidup tanpa kekurangan. Bahkan bisa membantu sesama. Kita pun hidup bahagia. Mereka yang juga melakukan ini pun juga sama." "Menikah bukan sesuatu yang salah, Baby." Ibuku mengakhirinya dengan kalimat itu, lalu berdiri hendak keluar kamarku. "Tapi menjanda di usia muda bukan keinginanku, Bu." Balasku sebelum ibu keluar kamar. Ibuku berhenti sejenak, kemudian keluar dari kamarku. Happy reading~ Jangan lupa untuk: √ Vote √ Coment √ Kritik dan Saran Hargai author dengan vote, terimakasi💞

More details
WpActionLinkContent Guidelines