Abducting Affection

Abducting Affection

  • WpView
    Reads 66
  • WpVote
    Votes 7
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, May 14, 2016
Mungkin, banyak orang berkata "masa SMA adalah masa paling indah dan takkan terlupakan." Benarkah? Lain halnya dengan Azel. Azelfa yang cuek, banyak tingkah, acuh tak acuh, dan sedikit berbuat onar jelas akan membantah apapun yang berkaitan dengan "kata orang" tersebut. Ia selalu merasa sendiri walau ramai, dikucilkan walau bersama, dan tak tersentuh walau berdekatan. Azel merasa dirinya dicampakkan dan dipaksa menjelajahi dunianya sendiri. Namun, semua terasa berubah disaat seseorang yang Azel anggap asing menghampirinya dengan segala pesona yang ada. Ia mendekati Azel dengan segala keramahan serta kesopanan yang tak pernah Azel bayangkan akan ia dapat dari seseorang asing yang bahkan tak pernah berbincang dengan Azel lebih dari 10 menit. Azel yang cuek pun mencoba tak merespon apapun tentang "dia". Hingga "dia" pun dapat meluluhkan hati Azel yang keras layaknya batu yang tak dapat lagi dipecahkan oleh ribuan butir air. Β©May 2016 cover made by me
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • MALA
  • A Memory to Remember
  • Aloryn & Azalea [kisah kita akan terus abadi]
  • Hiraeth to Everlasting Sun
  • Badai Tak Berujung [ON GOING]
  • MPLS
  • Choices
  • CEZALINE
  • Alexa & Axel
MALA

Semenjak kepindahannya di lingkup elite SMA Bina Bangsa, Tama perlu mengasingkan keberadaannya yang tak sesuai dengan segala kebaikan. Kehadiran Tama itu tidak diharapkan. Tama takut jika ia bebas membuka diri, nantinya ia akan kembali merugikan banyak orang. Pengalaman di masa lalu membuat Tama begitu rentan menerima pertemanan. Namun, berkat pertemuannya dengan seorang perempuan yang ternyata turut membagi pengalaman serupa, Tama jadi tersadar bahwa semua pelik emosi yang ia rasakan banyak berakar dari rumahnya yang berantakan. Pengulangan kalimat buruk serta kerasnya hukuman fisik sering melukai jati dirinya selaku remaja. Tama ingin sembuh, tetapi juga ragu apakah ia pantas menerima uluran tangan. Demikian, melalui banyak proses adaptasinya dalam menerima dan memberikan banyak bantuan, Tama hanya berharap. Semoga teruntuk mereka yang mau berbaik hati memercayainya, semua tidak berakhir dilanda kekecewaan.

More details
WpActionLinkContent Guidelines