KU MENUNGGUMU MAS

KU MENUNGGUMU MAS

  • WpView
    Reads 346
  • WpVote
    Votes 7
  • WpPart
    Parts 7
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, May 10, 2016
WpInfo
Non-Fiction
Menunggu seseorang di masa lalu memanglah menguras waktu dan pikiran kita. Terlebih jika seseorang itu tidak pernah kita temuin lagi. Pastilah membuat kita menjadi terlalu banyak berharap. Seperti kisah ini, kisah seorang wanita yang tak pernah lelah menunggu seorang pria yang menurutnya kini jauh lebih berbeda darinya yang dulu. Dia berharap bisa bertemu dengan pria itu lagi. Meskipun terakhir kalinya mereka berkomunikasi 2 tahun yang lalu. Dan bagaimana mungkin ketika itu pula ada seorang pria baik yang jatuh hati padanya malah dia abaikan demi seorang pria di masa lalu itu. Akankah pria itu datang lagi? Simak cerita selanjutnya di sini dan selamat membaca... Maaf ya kalau susunan katanya kurang rapi atau ceritanya kurang menarik. Ya namanya juga penulis amatiran. Silakan komen ya baik buruknya cerita ini. Karena untuk pembelajaran buatku nanti. Terima kasih.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Jauh. Esok Nanti atau Selamanya
  • Antara dosa dan Cinta Pertama
  • Malaikat Penyelamat
  • TAKDIR
  • Badai, Kapan Berlalu?
  • You're Here, But Not For Me
  • Ex or New? [REVISI]

Bagaimana jika perasaan itu tumbuh tanpa izin, hadir tanpa undangan, dan tinggal terlalu lama dalam hati yang tak pernah disapa? Ini adalah kisah tentang mencintai dalam diam. Tentang seseorang yang tidak pernah diminta untuk datang, tapi jadi alasan untuk bertahan. Harapan yang disimpan rapi di pojok hati, tak pernah diminta untuk dibalas, hanya ingin dimengerti. "Jauh. Esok nanti atau selamanya" bukan sekadar cerita cinta. Ini adalah perjalanan jiwa-tentang perjuangan tanpa jaminan, tentang kehilangan tanpa kata, tentang kecewa yang tak terucapkan, dan tentang harapan yang tetap tumbuh meski tahu ia tak akan pernah dipetik. Jika kamu pernah berharap pada seseorang yang bahkan tak tahu kamu ada, mungkin cerita ini adalah tentangmu juga. Karena mencintai yang paling tulus, kadang justru tak perlu memiliki-cukup mengikhlaskan, dan diam-diam mendoakan.

More details
WpActionLinkContent Guidelines