Rumah Tanpa Bapak

Rumah Tanpa Bapak

  • WpView
    LECTURAS 142
  • WpVote
    Votos 9
  • WpPart
    Partes 1
WpMetadataReadContenido adultoContinúa
WpMetadataNoticeÚltima publicación vie, may 13, 2016
Sampai detik ini pun aku masih bingung, sama bingungnya dengan tetanggaku. Mereka bertanya-tanya kepadaku saat aku memberi mereka lima kilo beras tiap bulannya. Aku harus berkeliling dari satu rumah ke rumah lainnya. "Aneh," kata salah seorang dari mereka, "bagaimana bisa kalian memberi kami beras, sedangkan kamu dan ibumu saja masih tinggal di rumah simbahmu. Bapakmu cuma tukang servis jam. Ibumu, dia cuma membantu simbahmu kan?" Aku tersenyum saja. Aku tidak pernah menjawab pertanyaan mereka. Seperti pesan ibu, "Tugasmu hanya mengantar beras ini. Lalu pulang. Tidak usah ngobrol sama mereka. Jangan jawab apa pun pertanyaan mereka. Senyum saja. Paham?" Aku paham. Meski sebenarnya aku ingin sekali menjawab pertanyaan mereka. Sesekali aku ingin menjawab dengan pertanyaan balik, "Menurut kalian, bagaimana cara kami bisa lebih kaya dari kalian?" Biar mereka berpikir sendiri, atau menduga-duga. Terserah saja. Tapi sebenarnya wajar saja kalau mereka bertanya seperti itu. Coba kalian bayangka
Todos los derechos reservados
Únete a la comunidad narrativa más grandeObtén recomendaciones personalizadas de historias, guarda tus favoritas en tu biblioteca, y comenta y vota para hacer crecer tu comunidad.
Illustration

Quizás también te guste

  • Dia Bukan Mommy'ku...
  • LINTANG SELATAN ( REVISI)
  • ARSEL
  • May am I ???
  • kakak kelas. oke
  • [EXO ff] Dady Saranghae
  • Cegil by my side (hiat)
  • ALRIN

"Apa kau yakin, dia mommy'mu... aku kira dia adikmu. kau gak pernah memberitaukan kepadaku... kalau mommy'mu sangat muda? aku kira mommy'mu udah tua. tapi nyatanya seperti ini... apa umurnya sama seperti kita..." Berbisik, yang adanya orang yang mendengarkan disamping aku ini mala diam sambil menatap kearah mommy'nya sendiri. "Bisakah, kau diam dego..." Orang yang ada di depanku mala melihat kami berdua dengan tatapan bodoh, kulambaikan tanganku keudarah pertanda menyuruh perempuan yang ada di depan kami ini untuk menghampiri kami. "Duduk disini..." Dia hanya diam saja tanpa mengatakan apapun, yang terpenting dia selalu patuh akan apa yang aku katakan. Terlalu rumit bagiku.

Más detalles
WpActionLinkPautas de Contenido