The Dregs

The Dregs

  • WpView
    Reads 65,679
  • WpVote
    Votes 5,884
  • WpPart
    Parts 38
WpMetadataReadMatureOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Oct 14, 2016
WpInfo
Fiction
Romance
SEQUEL MATCHA BLACK COFFEE (COMPLETE-PRIVATE ON) "Jika kopi bisa menggambarkan kehidupan ini, maka hidupku adalah kopi hitam tanpa sentuhan gula. Pahit dari tegukan pertama hingga hanya menyisa ampas." Empat tahun sudah berlalu sejak Hitam memilih langkah baru dalam hidupnya. Semuanya tidak pernah sama lagi. Ia mencoba mencari kebahagiannya sendiri, dengan memperbaiki diri dan tidak lagi menyia-nyiakan perempuan yang mencintainya. Tapi sayangnya hidup tidak semudah meminum kopi yang sudah ditabur gula. Bagaimanapun sempurnanya seseorang meracik kopi, tetap akan ada rasa pahit yang tertinggal. Hitam dihadapkan kepada pilihan yang tidak bisa ia tentukan pilihannya. Memilih kopi hitam yang sudah bertabur gula dengan sempurna atau memilih kopi hitam yang harus ia usahakan gulanya. Karena ketika memilih kopi hitam dengan gula yang sudah terasa sempurna, tidak semata-mata membuatnya menikmati kopi hitam tersebut. Terkadang memilih kopi hitam yang belum ditabur gula lebih memuaskan. Puas ketika bisa menentukan sebanyak apa gula yang akan dimasukkan. 13 Mei 2016
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Eyes That Never Looked Back I LingOrm [Bahasa Indonesia]
  • Moccacino
  • Kopi pahitku
  • OBSESSED with your body(END)
  • This City
  • LOVATTE
  • Matcha Black Coffee
  • CHOCOLATE OR COFFEE ( END )
  • [END] Sunday Morning

DISCLAIMER Cerita ini sepenuhnya fiksi. Tidak ada hubungannya dengan kejadian, individu, atau entitas di dunia nyata, baik yang masih hidup maupun yang telah tiada. Kesamaan apa pun hanyalah kebetulan belaka dan tidak disengaja. Ling Ling Kwong & Orm Kornnaphat, tentu saja, adalah gadis-gadis yang luar biasa dan tidak seperti karakter yang digambarkan dalam fanfiksi ini. Ingat, ini hanyalah fanfiksi! Selamat membaca! **Semua foto dikreditkan kepada pemiliknya masing-masing. Prolog Pertama kali Ling bertemu Orm, usianya enam tahun. Ia bersembunyi di balik kaki ibunya di sebuah kafe yang ramai, penuh dengan aroma kopi segar yang menyelimuti udara. Itu adalah tempat favorit orang tuanya, meski Ling sendiri jarang memperhatikannya-hingga hari itu tiba. Orm, seorang gadis kecil dengan celemek yang kebesaran, berdiri di belakang meja kasir dengan bertumpu pada ujung jari kakinya, menyusun paket gula dengan penuh konsentrasi. Ia mendongak, menatap mata Ling, lalu tersenyum lebar. "Mau bantu?" tanya Orm, sambil menyodorkan satu paket gula. Ling ragu. Ia belum pernah diajak melakukan hal yang begitu biasa sebelumnya. Tapi nada hangat dalam suara Orm terasa berbeda dari sapaan sopan yang biasa ia dengar. Sejak saat itu, Ling dan Orm tak terpisahkan. Perbedaan di antara mereka tak pernah menjadi masalah. Ling dengan gaun desainer dan mobil antar-jemputnya, sementara Orm dengan pakaian sederhana, selalu beraroma kopi dan roti panggang hangat. Mereka membangun dunia mereka sendiri di dalam kafe kecil itu, berbagi rahasia, impian, dan tawa. Tapi ada hal-hal yang tak pernah terucap. Orm tak pernah memberitahu bahwa jantungnya selalu berdegup kencang setiap kali Ling tersenyum padanya. Dan Ling? Ia tidak menyadari apa pun. Ia percaya bahwa takkan ada yang berubah di antara mereka. Hingga hari saat ia jatuh cinta pada orang lain.

More details
WpActionLinkContent Guidelines