Kecubung Cemani - Perjalanan Menembus Waktu

Kecubung Cemani - Perjalanan Menembus Waktu

  • WpView
    Reads 2,189
  • WpVote
    Votes 14
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Nov 16, 2011
Kini seluruh tubuhku masuk ke dalam benda ini sambil berputar-putar mengikuti lorong yang hanya berisi cahaya putih. Aku merasa semakin mengecil dan bergerak dalam kecepatan yang tak pernah kurasakan sebelumnya. Aku merasa kulitku tersayat-sayat dan seluruh tubuhku sakit sekali seperti dipukuli ratusan orang. Menyempit-menyempit dan terus menyempit. Berputar-berputar dan terus berputar. Aku tak tahu berapa lama aku menyempit dan berputar, sampai akhirnya gelap. Waktu seperti berhenti. Putaran juga berhenti. Hening, sunyi, senyap. Hanya kudengar suara nafasku yang memburu. Lalu aku semakin fokus mendengar nafasku yang mulai teratur, hingga kurasakan semua tubuhku perlahan sakitnya mulai hilang dan normal. Kudengar jantung yang berdegup, kurasakan darah yang mengalir, dan semua organ tubuh dari ujung kaki hingga ke ujung kepala dapat kurasakan. Aku seperti melayang. Aku tak tahu ini bergerak maju atau mundur. Kugerakkan kakiku, namun tak berpijak. Aku panik. Hei, aku tak berpijak pada apapun. Aku kenapa? Sampai akhirnya kulihat cahaya besar yang pada akhirnya aku masuk ke dalamnya. Dan... "Bruk!" Aku terjerembab jatuh di ruangan yang redup. Perjalanan menembus waktu dengan Pusaka Kecubung Cemani, benda pusaka yang bisa menembus ruang dan waktu. Bagaimana kisah petualangannya? Ikuti kisahnya di Kecubung Cemani - Perjalanan Menembus Waktu.
All Rights Reserved
#354
ilmiah
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Mahligai Sunyi
  • MAHESWARI  (selesai)
  • His Pretend Girlfriend (Completed)
  • The Grey Of SAKARUNA
  • Nouveautés [𝐓𝐑𝐀𝐍𝐒𝐌𝐈𝐆𝐑𝐀𝐒𝐈 𝐄𝐍𝐃]
  • in ROOM
  • Self Injury's(complete)✔
  • EGLANTINE ㅡ'Na Jaemin'
  • Semesta

Novel "Mahligai Sunyi": Senja mulai menua di balik jendela kaca, membiaskan cahaya jingga yang merayap perlahan di sudut ruangan. Aku duduk dalam diam, menatap kosong pada cangkir teh yang tak lagi mengepul. Aroma melati yang biasa menenangkan kini terasa hambar di inderaku. Aku terjebak dalam pusaran pikiranku sendiri, menggenggam kenyataan yang pahit namun tak bisa kutolak. Aku pernah percaya bahwa cinta adalah tentang memilih satu orang, bertahan dengannya dalam segala cuaca, dalam segala luka. Namun, kini aku mengerti bahwa terkadang, cinta juga berarti kehilangan-kehilangan harapan, kehilangan rasa percaya, bahkan kehilangan diriku sendiri dalam labirin luka yang diciptakan oleh seseorang yang seharusnya menjagaku. Arion adalah cintaku, atau setidaknya pernah menjadi. Aku mempercayainya lebih dari yang seharusnya, mencintainya lebih dari yang pantas. Namun, cinta saja tidak cukup untuk mempertahankan sebuah rumah tangga. Tidak cukup untuk menghindarkanku dari rasa sakit yang berkali-kali ia hadiahkan. Tidak cukup untuk membuatnya berhenti mencari bahagia di tempat lain. Aku telah memaafkan, berkali-kali. Aku telah memberi kesempatan, hingga tak tahu lagi batas dari kata "cukup." Tetapi, sampai kapan aku harus terus bertahan? Sampai kapan aku harus mengorbankan kebahagiaanku sendiri demi menjaga sesuatu yang terus menerus hancur? Dan di sinilah aku, berdiri di persimpangan. Antara bertahan dengan luka atau pergi dengan sisa-sisa keberanian yang kupunya. Aku tidak tahu bagaimana akhir dari kisah ini. Yang kutahu, aku hanya ingin menemukan kembali diriku yang telah lama hilang.

More details
WpActionLinkContent Guidelines