Aku Memilihmu

Aku Memilihmu

  • WpView
    Reads 147
  • WpVote
    Votes 4
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Jul 26, 2016
WpInfo
Fiction
Romance
Aku telah sampai di ujung kebahagiaan. Tapi mengapa air mata ini terus mengalir di saat yang seharusnya aku tersenyum kepada dunia? Kuputar tubuhku di depan kaca besar. Sehingga yang kulihat hanyalah gadis kecil yang kini telah dewasa. Gadis kecil yang selalu manja, kini telah menemukan pelabuhannya. "Sudah ditunggu, Mbak." "Oh, iya." Jawabku. Aku sedikit gelagapan. Dengan segera, kusematkan telapak kakiku pada sepatu keemasan di sampingku. Wanita paruh baya itu memberiku sebuket bunga yang telah dikemas rapi. Kuterima dengan sepenuh hati. Dengan cinta yang membara seperti saat ini... Langkah kakiku berjalan lamban menyusuri sepanjang permadani merah. Jantungku berdegub tak beraturan. Napasku sesak dengan pakaian yang dengan kasar membekap dadaku. Menyulitkan paru-paruku untuk menyedot oksigen. Dapat kulihat, riuh orang-orang yang seketika membuncah ketika batang hidungku telah sampai ditangkap mata. Suara tepuk tangan yang berkali-kali mengetuk gendang telingaku. Kulihat Ibu telah berdiri di sudut ruangan. Menyaksikanku dengan sekaan air mata yang membanjiri kelopak matanya. Seketika air mataku ingin meretakkan dinding pertahanan yang tak dapat lagi membendungnya. Dahulu, aku hanyalah sebuntal daging yang butuh kasih sayang Ibu. Aku hanya seorang anak kecil yang menangis bila tak ada di sampingmu. Dahulu aku hanya gadis remaja yang tak tahu arah dan tujuanku. Namun kini, aku akan pergi, Ibu. Menuju pelabuhan yang telah menantiku. Aku duduk dengan susah payah di samping pria itu, yang telah menyambutku dengan senyuman-senyuman hangat. Kuraih jemari tangannya, dan kujamahkan dengan keningku yang tertutup oleh make up yang tebal. "Sudah siap, Saudari Jingga?" ucap sesosok berpeci di hadapanku. Dengan tanpa ragu-ragu, aku mengangguk. "Baik, saudara mempelai pria, mohon untuk bisa menirukan perkataan saya." Pandanganku tak luput memerhatikan Ibu yang terus mengusapkan sehelai tisu pada kelopak matanya. Jangan menangis, Ibu, aku tetap gadis kecilmu yang dulu.
All Rights Reserved
#280
kesabaran
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Lalita My Love(Selesai)
  • 𝐉𝐚𝐧𝐝𝐚 𝐌𝐞𝐫𝐞𝐬𝐚𝐡𝐤𝐚𝐧
  • I Want To Make You Mine
  • SELEPAS KAU PERGI (COMPLETED)
  • MY SOUL
  • ABOUT ME : Aku Ingin Istirahat
  • Narasi patah hati
  • Your Beautiful Eyes (END)

Lardo menarik Lalita dan melumat bibir Lalita, jangan pernah mencobanya, karena bibir ini milikku, kau mengerti. "Lalita mengangguk". "Apa.......!!!", pekik Lalita sadar dengan apa yang ia lakukan. "Lardo hanya menatap datar keterkejutan Lalita. "Bagaimana anda bisa bisa masuk ke dalam toilet wanita sir?, Lalita menoleh ke kiri dan ke kanan, bagaimana kalau ada yang melihat anda disini?, Ini perusahaanku Lalita, aku bebas berada dimanapun aku suka, Lardo mengelus bibir Lalita, aku menginginkannya lagi, Lardo menarik dagu Lalita, menyatukan bibir mereka, Lardo menghisap bibir Lalita membuat Lalita mengerang pelan. Ini benar-benar nikmat, Lardo memperdalam ciumannya Lalita merasakan jantungnya berdegub sangat kencang, kakinya lemas seakan tidak bertulang, Lardo masih melumat bibir Lalita dengan rakus, satu tangan Lardo menahan pingang Lalita, entah sejak kapan Lalita mengalungkan keduan tangannya di sekeliling leher Lardo. Ikuti gerakan yang aku lakukan di dalam mulutmu Lalita, bisik Lardo di telingah Lalita ini akan sangat nikmat sayang, Lardo mengecup rahang Lalita sebelum kembali melumat bibir Lalita dengan lebih lembut dan lambat, Lardo ingin Lalita ikut menikmati tautan bibir mereka. Uuhhhh.....Lalita mengerang lembut, Lalita ikut mencicipi bibir Lardo, bibir Lalita dengan lembut mengikuti gerakan bibir Lardo di mulutnya, lidah Lardo membelit lidah Lalita, begitupun dengan Lalita "Kau belajar dengan cepat rupanya, Lardo meraup bibir Lalita kembali mendominasi ciuman mereka, kita harus berhenti sekarang Lalita sebelum aku melakukan sesuatu lebih padamu. Lardo tersenyum melihat Lalita yang menutup matanya, mereka menarik napas dalam-dalam. Aku harus pergi sekarang, Lardo melepaskan kedua tangan Lalita, kemudian mengecup lembut bibir bengkak Lalita. Lalita masih mengatur napasnya, menatap tidak percaya pada pintu yang tertutup. Aku......pikirnya

More details
WpActionLinkContent Guidelines