Senja
  • WpView
    Reads 781
  • WpVote
    Votes 170
  • WpPart
    Parts 12
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Mar 26, 2017
WpInfo
Fiction
Romance
Zahara membenci senja. Senja yang membawa pergi orang yang ia sayangi. Sejak saat itu ia membenci dirinya, zahara ingin menghapus luka itu tapi tidak bisa, luka itu terlalu dalam dihatinya. Seberapa pun zahara ingin melupakan luka itu justru semakin terbayang kejadian di masalalu. Di saat itulah ia bertemu dengan Adrian. Adrian mengubah arti tentang senja dihidupnya.
All Rights Reserved
#5
monaco
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Pada Senja, Kita Bertemu di Batavia.
  • A R S E A N A
  • The Savior - Sang Penyelamat (END - Terbit)
  • Lentera Senja
  • Unwanted Wedding
  • Tanyakan Namaku Pada Senja
  • Dangerously
  • Wanita Kedua Suamiku (On Going)
  • Never Ends

PROLOG Cinta? Sebuah kata yang berulang kali terdengar, tetapi tak pernah benar-benar ia mengerti. Bagi Halira, hidup bukanlah dongeng dengan akhir bahagia, melainkan jalan panjang yang dipenuhi kesenjangan dan luka yang diwariskan sejak lahir. Ia tumbuh di antara batas-batas yang tak bisa ia pilih, dalam keluarga yang lebih mengenal garis darah daripada kasih sayang. Dan Sabiru, sahabat yang selama ini ia yakini sebagai tempatnya pulang, perlahan menjauh. Ia tak pernah menghakimi, tetapi diam-diam merasakan batas yang semakin nyata-sebuah jurang tak kasatmata yang perlahan menelannya menjadi bayangan, menjadi asing di dunia yang seharusnya memeluknya. Lalu, pada suatu senja yang membawa angin laut dengan aroma asin yang tajam, Halira menemukan sosok itu. Leyden van Reinjes. Seorang lelaki yang tampak seperti pahatan dewa, dengan sorot mata biru sedingin lautan yang menyimpan rahasia di kedalamannya. Seorang letnan jenderal yang lahir dan dibesarkan dalam kemewahan yang mengajarkan bahwa kesempurnaan adalah harga diri, bahwa luka adalah aib, dan bahwa cinta hanyalah mitos murahan bagi mereka yang lemah. Di antara mereka, sehelai selendang melayang, terbawa angin sebelum menyentuh wajah Leyden dan akhirnya terseret ombak, menghilang tanpa jejak. Halira menatapnya dengan kesal. Leyden hanya diam, membalas tatapannya. Tak ada yang menyangka bahwa pertemuan itu akan menjadi awal dari kisah yang lebih dari sekadar luka, lebih dari sekadar cinta yang dilarang. Karena setelah hari itu, senja tak pernah lagi sama.

More details
WpActionLinkContent Guidelines