"Kita ibaratnya dua sisi di koin recehan," kata Luke, sambil beneran ngangkat koin 500 perak tinggi-tinggi. Satu hal yang dia nggak tahu adalah, keteknya bau b a n g e t, demi Dewa!
"Aku sisi gambarnya, soalnya aku maha ganteng. Kalau kamu sisi angkanya, soalnya kamu jago banget matematika," lanjutnya disertai cengiran lebar.
Waktu itu aku ngatain Luke, "Receh banget, sumpah." karena kami masih cuma dua sahabat bagaikan kepompong yang hobinya gila-gilaan. Gak lebih.
Tapi saat aku mendapat undangan pernikahan dari Luke beberapa tahun kemudian, barulah aku melihat satu lagi filosofi recehan yang sebelum ini tak seorangpun kami pernah sadari keberadaannya.
Recehan, aku dan Luke.
Recehan, tinggal kenangan.
[ ©2016 by morekrizzy | romance/comedy/teen fiction | bahasa Indonesia ]
All Rights Reserved