TBS #2 : The Cold Guy

TBS #2 : The Cold Guy

  • WpView
    Reads 1,233
  • WpVote
    Votes 88
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadMatureOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, May 5, 2017
Rafael Richardson adalah pria berumur 25 tahun yang merupakan satu satunya penerus laki-laki di keluarga Richardson. Hal ini membuat Rafael memikul tanggung jawab yang sangat besar bagi keluarga dan perusahaannya, Richardson Group. Postur tegap sempurna dan wajah bak Dewa Yunani membuat wanita manapun bersedia bertekuk lutut di hadapannya, selain ketampanan yang ia miliki, siapa yang tidak tahu jika dia adalah seorang yang jenius dilihat dari gelar Bachelor of Business Administration yang didapatnya ketika masih berusia 19 tahun di Harvard Business School. Dengan segala kekuasaan yang dimilikinya tak menutup kemungkinan ia menjadi pria yang kejam, dingin, dan berlaku sesukanya. Stefanie McMahon, salah satu pewaris bisnis properti terbesar di Asia yaitu McMahon Corp. diumur nya yang baru menginjak 21 tahun ini, ia baru saja mendapatkan gelar Bachelor of Business Management dari universitas ternama Columbia University. Selain pintar, Stefanie juga memiliki paras yang sangat cantik dengan rambut coklat dan proporsi tubuh sempurna seperti model sehingga tak jarang para eksekutif muda berlomba mendekatinya. Tak disangka keduanya dipertemukan dengan cara yang kurang menyenangkan. Stefanie, yang diperintahkan ayahnya untuk belajar etika dan kepemimpinan di perusahaan lain dititipkan ayahnya kepada Rafael untuk menjadi sekretaris pribadinya. Rafael Richardson tentunya ada dibalik semua ini.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Beloved CEO : CEO Tercinta
  • Luscious Flame (COMPLETED)
  • Prince Untuk Alea
  • Rose
  • Not So Cold Mr.Boss (End)
  • My Beautiful Rosè ✔ [SUDAH TERBIT]
  • The Sweetest Billionaire ✔️
  • FAT(E) LOVE
  • Empress Love

Completed ✅ Bagi Stella Francis, bekerja di Peters & Co. adalah tiket satu arah menuju hidup yang lebih layak, walau itu berarti harus mengenakan sepatu murah yang lecetnya tak bisa disembunyikan, menyimpan bekal dalam kotak makan anak-anak, dan tetap tersenyum lebar sambil membawa lima gelas kopi untuk rekan satu tim. Ia tahu dunia kantor tak selalu ramah, apalagi jika atasannya adalah Stefan Peters, seorang CEO yang lebih nyaman berbicara dengan spreadsheet daripada manusia. Namun Stella bukan tipe wanita dua puluh tujuh tahun yang mudah surut. Di balik sikap riangnya, ada keteguhan yang telah ia tempa, bahkan oleh Stefan yang dikenal dingin. Perlahan, celah-celah kecil terbuka. Dalam ruang-ruang diskusi larut malam dan proposal yang disusun berdua, Stefan mulai melihat sisi lain dari Stella, bukan hanya sebagai rekan kerja dan karyawati yang selalu bersinar, tetapi sebagai seorang perempuan yang hidupnya ditambal oleh keterbatasan dan tak pernah kehilangan cahaya. Keduanya berjalan di garis tipis antara profesionalisme dan sesuatu yang jauh lebih personal. Karena ternyata, yang paling sulit bukan menjaga jarak, melainkan pura-pura tak merasa apa-apa. Tapi bagaimana jika yang coba mereka hindari justru satu-satunya hal yang layak diperjuangkan?

More details
WpActionLinkContent Guidelines