Ablish
  • WpView
    Reads 358
  • WpVote
    Votes 25
  • WpPart
    Parts 5
WpMetadataReadComplete Fri, Jul 15, 2016
Cristhine Howards mengalami masa penuh kesakitan saat ia harus menemani ibunya yang terbaring lemah karena tumor otak . Tangisnya pecah saat orang-orang berbaju hitam mengantar ibunya keperistirahatan terakhir. Kini dari Washington DC ia harus pindah ke belahan dunia lain yang sangat asing baginya, Sierra Nevada, daratan indah penuh pohon cemara juga paling tinggi di AS. Ia tinggal dengan ayahnya yang baru ditemuinya lagi sejak usia 9 tahun lalu kedua orangtuanya bercerai. Masuk ke Whitney Highschool tempat dengan orang-orang penuh bakat, ia merasa begitu pesimis. H-1 ia lewati dengan luka memar dikepala, tidak hanya 1pria yang menabraknya Hari itu. Yang pertama Cristhian William dan kedua Robert William. Pria dengan nama keluarga sama namun memiliki kepribadian yang berbeda. Kaya, mempesona, populer atau luarbiasa tampan, pintar, ketua klub basket?? Ada seorang menjauhinya dan ada seorang yang mendekatinya Dua kutub yang berlawanan
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Vericha Aflyn ✔️
  • CAMELIA [END]
  • TRANSMIGRASI BERDARAH (END)
  • Adopted by One Direction
  • Another Seyra! Antagonist Girl [End]
  • ALATAS
  • Become An Antagonist? [ON GOING]
  • Trouble Corazón ( Masalah Hati Kita) (END)
  • Letter From Ara (END)

#Judul awal 180 degree.# Vericha Aflyn. Perempuan yang akan menginjak usia 17 tahun, dalam beberapa bulan lagi. Dia bukan perempuan yang haus akan popularitas, bukan pula perempuan polos. Dia hanya perempuan biasa-biasa saja, dengan kisah yang tak biasa. Dia hanya perempuan biasa, yang mendambakan bahagia. Orang baru dan cerita baru, menghiasi hari-harinya. Tuduhan, siksaan, dan cibiran ia dapatkan. Mampu kah dia bertahan? Atau harus menyerah dengan keadaan? ---------- "Jangan pergi! Ini perintah, bukan permintaan!" Icha kembali menutup matanya, membuat air mata yang tertahan di pelupuk matanya terjatuh. Dadanya semakin terasa sesak, mungkin kah dia bisa bertahan? "H-hanya sebentar!" pinta Icha dengan lemah. "Lo harus janji, bakalan bangun lagi!" Setelah itu Icha hanya mengangguk, lalu bersandar di dada Isan. "Lo y-yang harus bangunin gue." Isan mengelus rambut Icha lembut, hati Isan terasa di cubit, saat dia dapat mendengar suara nafas Icha yang teratur. Isan meraih tangan kanan Icha, dan langsung menempelkan di dadanya. Mencoba memberi tahu Icha, tentang keadaan hatinya. Tak berselang lama, Isan di buat terkejut. Debaran jantungnya terasa berhenti, dengan nafas yang tercekat. Tangan Icha jatuh begitu saja di pahanya, nafasnya pun terputus-putus. Isan menggelengkan kepalanya dengan air mata yang sudah bercucuran. Dia dekap erat tubuh Icha, menahannya agar tak pergi. Matanya menatap hamparan bintang, dan indahnya bulan. Memohon keajaiban, dan meminta kesempatan. Isan berteriak lantang, menyerukan nama Icha. Memanggilnya untuk kembali. "ICHA!!"

More details
WpActionLinkContent Guidelines