Nona Senja

Nona Senja

  • WpView
    Reads 320
  • WpVote
    Votes 19
  • WpPart
    Parts 4
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Jun 21, 2016
Di suatu sore, purnama ketiga tahun ini, Ilyas duduk seorang diri menatap cakrawala yang menyajikan senja penuh jingga. Di atas lantai teratas gedung berlantai 4 itu, Ilyas duduk penuh sunyi ditemani semilir angin yang berhembus manja. Begitu nikmatnya. Ilyas yang baru saja menyiram bunga di halamanya, di datangi Fahd yang memintanya untuk menemaninya berburu senja untuk project bulanan dari club fotografinya di sekolah. Ilyas pun mengiyakan ajakan sahabatnya itu, walaupun artinya Fahd akan asik sendiri, membiarkan Ilyas duduk melamun mengamati senja sore itu, menunggu ia selesai. " Langitnya cantik yah, Yas " Kata Fahd yang akhirnya menghampiri Ilyas. " He'em " jawab Ilyas seadaanya. " Aku suka senja. Senja itu selalu romantis " Kata Fahd tersenyum seakan mengulang kembali kenanganya bersama senja. " Masa sih ? " Tanya Ilyas tanpa sedikitpun menoleh ke arah Fahd. " Iyah. Liat aja suasananya. Damai, langitnya indah, anginya juga pas. Ahhh, bikin rileks. " Fahd meluruskan tanganya keatas, mencoba merenggangkan tubuhnya. " Tapi semua semu " Jawab Ilyas datar. " Hem ? Maksud kamu ? " Fahd bingung dengan jawaban sahabatnya itu. " Aku benci senja. Senja itu egois. Pergi seenaknya setelah memberi begitu banyak kebahagiaan dan keindahan seperti ini. Pada akhirnya hanya gelap pada malam yang di selimuti sepi. Keindahanya semu. Harapanya juga semu dan yang paling memuakkan adalah ia akan mengulangnya untuk besok, besoknya lagi, besoknya lagi, lagi, lagi lagi. Apa yang bagus dari itu ? Harapan palsu. " Hening. Fahd tercengang mendegar pendapat Ilyas yang terus menatap lurus kearah senja. Suara Adzan Maghrib memecah keheningan antara Fahd dan Ilyas. " Yuk pulang. Udah selesai kan ? " Tanya Ilyas. " Kampret. Kamu dingin banget. Kamu habis di apaain sama Senja ? " Kata Fahd yang masih kaget. " Apaan sih. Hahaha. Pulang ah. " Ilyas berjalan meninggalkan Fahd..
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • DANADYAKSA
  • Petikan Lingga
  • Aksara Lingga
  • Males, ribet.
  • GHAVARI
  • FASE
  • Sahabat atau Cinta
  • Cerita di Balik Senja
  • JAM 3 SORE
  • GRIZLEN {On Going}

Danadyaksa adalah laki-laki dengan hidup yang sangat sederhana. Cibiran dan hinaan sering didapatkannya dari teman-teman satu sekolahnya terutama perempuan karena menggunakan sepeda motor beat berwarna hitam setiap berangkat sekolah. Orang tuanya meninggal ketika ia masih duduk di bangku SMP, meninggalkan dua orang adik yang harus Aksa hidupi. Menjadi Ayah, Ibu sekaligus kakak di usianya yang begitu belia bukanlah hal yang mudah. Aksa mulai bekerja semenjak orang tuanya meninggal untuk memenuhi kebutuhannya serta kedua adiknya yang masih kecil. Menjadi kuli bangunan, penjaga toko, pelayan restoran dan berbagai pekerjaan serabutan lainnya Aksa lakukan. Aksa pernah berkata: "Nggak papa gue nggak punya masa depan yang terjamin, tapi adek-adek gue harus punya masa depan. Harus jadi orang besar." Aksa tidak pernah memikirkan perihal cinta. Yang ia pikirkan hanyalah adik-adiknya. Bagaimana masa depan adiknya, bagaimana mendidik adiknya dengan baik dan bagaimana adiknya bisa menikmati hidup seperti anak lainnya yang penuh kebahagiaan dari keluarga. Namun, Aksa mulai tertarik dengan cinta semenjak ia mulai mengenal Alsava. Gadis yang dikenalnya sejak insiden Aksa yang tanpa sengaja menginjak kacamata Alsava. Tapi rasanya sangat tidak mungkin untuk memiliki Alsava yang latar belakang ekonominya sangat jauh beda dengan dirinya. Apakah mereka bisa bersama? Mungkin. Atau justru, tidak akan pernah bersama. ** "Sa, gue boleh suka sama lo, nggak?" "Tunggu gue sukses." ** "Gue kalo mau suka sama Alsava juga harus sadar diri. Gue orang nggak punya. Beda sama dia." ***

More details
WpActionLinkContent Guidelines