Bidadari - kau bukan untukku!

Bidadari - kau bukan untukku!

  • WpView
    Reads 220
  • WpVote
    Votes 1
  • WpPart
    Parts 8
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Jun 6, 2016
WpInfo
Fiction
Historical
Dan akhirnya, burungpun kembali mengepakkan sayap. Mencari mimpi. Dalam malam. Suara rebana menggema, Lagu-lagu nashid mengalun merdu meramaikan suasana. Sepasang pengantin tengah duduk bersanding di atas pelaminan. Beberapa undangan pria dan wanita berbaris rapi, berjalan perlahan menuju ke arah kedua mempelai. Satu persatu dari mereka menyalami pengantin pria sembari megucapkan selamat dan do'a barokah. "Akh, kapan nyusul? Jomblonya keburu akut tuh." Bisik mempelai pria pada seorang laki-laki yang sedang menyalaminya. Laki-laki yang dimaksud hanya terdiam. Seketika wajahnya memerah, sepersekian detik lamanya. Kata-kata yang dibisikkan di telinganya bak godam besar yang menghantam. Menyisakan biru lebam dan tulang ngilu. Senyum manis yang menunjukkan barisan gigi putih itu dirasanya seperti cemohan sinis dengan kalimat "Malang sekali nasibmu bung." Sungguh, kalau bukan karena iman pada Allah yang Maha menciptakan. Kalau bukan karena keyakinan bahwa jodoh itu telah ditulis dalam sebuah catatan. Kalau bukan karena ibu yang selalu menguatkan dengan perkataannya "Tidak perlu kau sedihkan, ibu ikhlas dia pergi. Allah telah menyiapkan yang lebih baik dari dia." Kalau tidak teringat bahwa ini terjadi juga demi kebaikan keluarganya. Tidak ada yang tahu, bahkan tidak akan pernah tahu bagaimana laki-laki ini menyimpan rasa sakit hati. Hatinya yang remuk, hancur, kecewa dan sedih. Dia bersusah payah untuk membuatnya ikhlas. Tapi, ikhlaspun butuh perjuangan, apalagi mengingat waktu berlalu dengan jutaan kenangan indah sulit terlupakan. "InsyaAllah. Doanya Akh." Jawabnya pelan, dengan senyum sedikit dipaksakan. Pandangannya tertuju pada wanita berbusana bak seorang Ratu yang berdiri di samping pengantin pria. Wajah putihnya menunduk, menyembunyikan rona kesedihan yang begitu dalam. Hatinya tambah sakit.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • SENI MEMAHAMI HATI ISTRI
  • PEREMPUAN YANG MENCINTAI HUJAN
  • Surat Undangan dari Orang yang Kucinta (Sedang Revisi)
  • Bunuh Saja Aku Tuhan
  • 𝐙𝐈𝐍𝐍𝐈𝐀
  • Imam dari Sepertiga Malam
  • Jodoh PilihanMu
  • Kembali Bersamamu (END)
  • Ustadzah Assyifa✔️

Menjelang enam tahun usia pernikahan ternyata tidak menjamin aku bisa memahami karakter seorang perempuan dalam diri istri. Terkadang, aku menyesalkan mengapa di buku nikah tidak disertakan panduan bagaimana suami memahami istri. Waktu beli alat elektronik saja pasti dikasih buku panduan penggunaan. Jadi kalau ada masalah pada alat tersebut, ya tinggal baca buku panduan, ikuti petunjuk, beres. Sedangkan di buku nikah tak ada arahan serupa. Padahal dunia pernikahan nyatanya lebih rumit dari sekedar mengoperasikan alat elektronik. Sebab istri merupakan mahkluk antik. Susah dimengerti tapi selalu ingin dimengerti. Bahkan di beberapa hal, percakapan yang awalnya normal saja, bisa menjadi sensitif dan membuat ia ngambek tak karuan. Seperti beberapa hari sebelum lebaran tiba, ketika aku mendapat pesan WA dari wakil kepala sekolah, yang kebetulan seorang perempuan. "Dari siapa, Bang?" tanya istri. "Dari Bu Bunga (bukan nama ilmiah), aku diminta ambil parcel lebaran di sekolah. Katanya ada tambahan uang juga khusus buat guru honorer. Bu Bunga emang baik, dia yang ngusulin ke yayasan agar guru honorer juga dapat Tunjangan Hari Raya." Lantas istri kembali bertanya, "Bu Bunga itu yang mana, Bang?" "Masa' ndak inget, Neng? Waktu Ayas opname tahun lalu beliau njengukin di rumah sakit. Bu Bunga pakai baju hitam kerudung putih," ucapku. Tanpa disangka istri langsung manyun, "Duh, kayaknya spesial banget Bu Bunga di pikiran Abang. Sampai baju yang dipakai setahun lalu pun diingat." Loh, kok jadi kayak gini? Ucapku dalam hati. "Iya, kan? Orangnya spesial kan di mata Abang?" "Ya Allah, ndak gitu, Neng."

More details
WpActionLinkContent Guidelines