Story cover for HEART by Choco_Cheese
HEART
  • WpView
    Reads 1,167
  • WpVote
    Votes 54
  • WpPart
    Parts 14
  • WpView
    Reads 1,167
  • WpVote
    Votes 54
  • WpPart
    Parts 14
Ongoing, First published Jun 01, 2016
Saat hati meminta kamu terus berjuang, saat hati malah semakin mencintai dia, tapi yang terjadi dia sudah tidak mempunyai sedikit ruang lagi untukmu, sedikit pun tidak ada! Karena tempatmu sudah digantikan oleh orang lain.
Sakit? Ya.
Ingin terus berjuang? Ya.
Walaupun sia-sia dan hanya membuat sakit? Ya.
Lalu otak akan berkata: "Kamu tidak usah bodoh! Kamu jangan mau terlihat seperti orang yang menyedihkan! Sadar! Dia tak sedikit pun menginginkanmu lagi! Bangun lah, masih banyak orang yang pantas menerima perjuanganmu! Bukan dia yang hanya ingin bermain-main saja denganmu!"

Kisah 6 Hati yang saling mencari, bertemu dan pergi, mencintai dan dicintai, tersenyum dan meneteskan air mata, mengejar dan terjatuh, berharap dan melepaskan.

# Adaptasi dari kisah nyata author
# 50%TrueStory
All Rights Reserved
Sign up to add HEART to your library and receive updates
or
#8choco
Content Guidelines
You may also like
Kiara and zaki's love journey [sedang revisi √ ] by tiaxyl
28 parts Ongoing Mature
"Sayangkuu, cintakuu. Gimana dengan hari ini, hm? Are you happy?" "Seru dong, senang karena ada kamu, Ka. Hehe." Dulu, setiap percakapan kecil seperti itu mampu menyulap hariku jadi lebih indah. Tapi semua itu kini tinggal kenangan. Hubungan yang manis dan penuh tawa itu akhirnya harus berakhir, bukan karena cinta kami memudar, tapi karena kenyataan terlalu pahit untuk ditelan bersama. Aku masih mencintaimu. Masih ingin mendekat, masih berharap bisa kembali. Tapi jarak ini bukan lagi tentang raga-melainkan tentang takdir yang tak mengizinkan kita bersatu. Cinta kita besar, tapi tidak cukup untuk melawan kenyataan yang tak berpihak. Banyak halangan yang kucoba lalui demi kamu, demi kita... tapi ternyata semesta punya rencana lain. Kini, aku hanya bisa menatapmu dari kejauhan. Ingin kembali, tapi tak bisa. Ingin melepaskan, tapi hatiku belum rela. Satu kejadian itu-satu hari yang mengubah segalanya-telah memutus tali yang tak terlihat namun sangat kuat mengikat kita. Jika bukan karena kejadian itu, mungkin aku masih tersesat dalam hubungan yang samar: ada, tapi tak punya peran. Dulu aku memegang peran utama di hidupmu. Sekarang? Bahkan untuk menjadi figuran pun aku tak lagi layak. Kita pernah sangat dekat, tapi kini aku tahu... melepaskan sesuatu yang sudah terasa seperti rumah tidak akan membuat segalanya membaik. Bahagia tidak selalu datang setelah menjauh. Dan seringkali, hubungan yang tampak sempurna dari luar menyimpan luka yang tak pernah terucap. Aku tak menyangka semuanya akan berakhir seperti ini. Tapi yang sudah terjadi, biarlah terjadi. Meski begitu, kenangan itu-kenangan tentang hari itu-masih terpatri jelas di pikiranku. Hari saat aku sadar... cinta saja tidak cukup.
You may also like
Slide 1 of 10
Jauh. Esok Nanti atau Selamanya cover
SalFlo cover
Between Us : One Heart Two Stories [On Going] cover
Derena cover
Maafkan Aku cover
Kiara and zaki's love journey [sedang revisi √ ] cover
Mianhae cover
Stolen Before Fallen cover
UNREQUITED LOVE cover
Antara dosa dan Cinta Pertama cover

Jauh. Esok Nanti atau Selamanya

18 parts Ongoing Mature

Bagaimana jika perasaan itu tumbuh tanpa izin, hadir tanpa undangan, dan tinggal terlalu lama dalam hati yang tak pernah disapa? Ini adalah kisah tentang mencintai dalam diam. Tentang seseorang yang tidak pernah diminta untuk datang, tapi jadi alasan untuk bertahan. Harapan yang disimpan rapi di pojok hati, tak pernah diminta untuk dibalas, hanya ingin dimengerti. "Jauh. Esok nanti atau selamanya" bukan sekadar cerita cinta. Ini adalah perjalanan jiwa-tentang perjuangan tanpa jaminan, tentang kehilangan tanpa kata, tentang kecewa yang tak terucapkan, dan tentang harapan yang tetap tumbuh meski tahu ia tak akan pernah dipetik. Jika kamu pernah berharap pada seseorang yang bahkan tak tahu kamu ada, mungkin cerita ini adalah tentangmu juga. Karena mencintai yang paling tulus, kadang justru tak perlu memiliki-cukup mengikhlaskan, dan diam-diam mendoakan.