Cafe Latte

Cafe Latte

  • WpView
    Reads 521
  • WpVote
    Votes 31
  • WpPart
    Parts 7
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Nov 4, 2016
WpInfo
Fiction
Romance
Menjadi seorang secret admire bukanlah hal yang membosankan untuk Yara. Bagi Yara mengamati, memperhatikan dan mengetahui seseorang dari jauh itu lebih baik daripada dekat walau dalam radius satu meter bisa berakibat fatal bagi kesehatan jantungnya. Selain menunggu hasil olimpiade matematika dan hasil ulangan semester jantung Yara akan berdegup dua kali lipat ketika ia melihat Axel. Hanya Yara dan ketiga temannya yang tahu bahwa ia menyukai Axel, laki-laki yang diidamkan oleh seluruh warga sekolahnya. Sampai suatu saat pondasi yang dibangun kuat oleh Yara agar ia tidak diketahui oleh Axel berakhir runtuh dengan mudah di Cafe Latte. Axel mengetahuinya. Yara memejamkan mata, menghela nafas, dan hanya bisa berdoa agar Axel hanya mengenalinya tanpa mengetahui isi hatinya.
All Rights Reserved
#8
latte
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Karena Katrina
  • ABU-ABU
  • Wife, Daughter, and My Memory
  • Sticky Note [TERBIT]✅
  • Aku Tau Itu
  • ALKASA✔
  • KELABU (Werewolf Story) [END]
  • Axelvard
  • Bukan Stalker [TAMAT]

Katrin sebel banget sama Pak Anjar, guru matematikanya yang doyan diskriminasi itu. Gara-gara nilai ujian matematikanya yang di bawah standar, dia harus berurusan dengan Garvin atas perintah bapak itu. Garvin itu memang luar biasa pintar. Segala rumus matematika sudah ia hapal di luar kepala. Pelajaran lain pun mampu ia kuasai dengan baik. Poin plusnya, dia punya tampang cakep yang bisa bikin cewek mana pun terpesona. Sayangnya, cowok itu kelewat serius! Menurut Katrin, diajarin matematika oleh Garvin itu udah kayak didikte oleh Hitler. Nyeremin! Image-nya sih cool, tapi sekali ngomong, langsung bikin Katrin pengin lempar kursi saking emosinya. Dan yang bikin Katrin rasanya mau terjun bebas, cowok itu meremehkan hobi menggambarnya. Katanya, Katrin nggak mungkin jadi orang sukses hanya dengan modal nyoret kanvas di Ipad kesayangannya doang. Katrin sebel, jengkel, dongkol, dan sebangsanya. Tapi yang bisa dia lakukan hanyalah mengelus dada sabar. Mendebat cowok itu sama saja berusaha berbicara menggunakan bahasa Alien karena hanya bikin bingung, pusing dan sia-sia. Katrin berharap penderitaannya di kelas matematikanya segera berakhir. Ya kali dia bisa tahan berurusan lebih lama lagi dengan makhluk bermuka datar itu.

More details
WpActionLinkContent Guidelines