Just Friend. Maybe?

Just Friend. Maybe?

  • WpView
    Reads 902
  • WpVote
    Votes 48
  • WpPart
    Parts 8
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Nov 8, 2018
Sahabat? Yups itulah tahta tertinggi yang bisa gue dapetin saat ini. Aldo Weston Kusuma cowok playboy di SMA gue sekaligus sahabat gua dari kecil yang bikin gue merana selama ini akibat sikapnya yang ambigu. Orang-orang bilang kalo gue beruntung bisa sahabatan bareng dia. Tapi mereka gatau gue udah nahan perasaan ini bertahun-tahun cuma demi janji gue sama dia buat gak ngelibatin perasaan dalam persahabatan kita. Tapi satu hal yang buat gue sangat amat kecewa dan memutuskan untuk mengakhiri hubungan semu ini. "Do lo selama ini tau perasaan gue buat lo kayak gimana?" tanya Clara dengan lirih sambil menghapus air mata sialan yang gak bisa berhenti. "I knew Ra but.." balas Aldo frustasi. "Lo tau tapi lo tetep ngelakuin hal itu? Lo JAHAT!" teriak Clara memukul dada bidang Aldo yang sekeras batu tapi tetap sandarable (hmm ok skip) "Gak gitu Ra." Aldo hanya pasrah karna rasa bersalah dan penyesalan yang menggerogotinya. Dengan suara lirih Clara mengakhiri pembicaraan yang mungkin akan menjadi terakhir kalinya ia berhadapan dengan Aldo "Lo tau apa yang jadi penyesalan terbesar dalam hidup gue?" Clara diam sejenak "Gue nyesel pernah buang-buang waktu untuk menyukai orang yang brengsek kaya lo!"
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • He is not My Best Friend (End)
  • SKALA (Reana) COMPLETED
  • Disaster In Feelings
  • Love & Lost
  • 🎀Sahabat Jadi Cinta🎀
  • Buat Aku Lupa
  • Just Best Fri(end)
  • PROSA "Proyeksi Rasa" [END]
  • ♚BEST FRIEND ZONE♚
  • Alca || Selesai

Kata orang, persahabatan antara laki-laki dan perempuan tak semuanya berjalan mulus. Tahu kenapa? Ya, karena pasti akan terlibat sebuah perasaan. Perasaan yang entah itu hanya dimiliki satu orang saja, ibarat bertepuk sebelah tangan. Atau juga perasaan yang terbalas, istilahnya kedua-duanya memang memiliki rasa yang sama. Awalnya aku mengenyah hal tersebut, karena selama ini aku bisa hidup dengannya sejak kecil tanpa terlibat perasaan. Iya, itu pada saat aku masih menginjak kelas delapan sekolah menengah pertama. Waktu terus berjalan. Sampai pada akhirnya, perasaan yang ku genggam erat dan tak akan mungkin menyukai sahabatku sendiri, nyatanya pupus. Saat kelulusan kelas sembilan aku baru sadar. Kalau aku memiliki rasa sayang bahkan cinta pada sahabatku sendiri. Namun, sampai saat ini aku tidak tahu. Apakah kami memiliki rasa yang sama atau hanya aku yang memiliki rasa seperti itu? Jadi, apa ini akan berakhir cinta bertepuk sebelah tangan? Photo cover by pinterest. Created by me and don't copy my story!

More details
WpActionLinkContent Guidelines