Aku Ini Bunga, Bersemi untuk Mati

Aku Ini Bunga, Bersemi untuk Mati

  • WpView
    Reads 8
  • WpVote
    Votes 2
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Jun 8, 2016
Sore itu akhirnya ku bawa pulang bunga yang menemaniku sepanjang sore di makam kakek dan nenek. Kusematkan ia di sela - sela jari tanganku dan terlihat seperti mata cincin, cantik sekali. Sepanjang perjalanan aku hanya ingin memandangnya. Kelopaknya yang tertiup - tiup angin sungguh membuatnya terlihat semakin mempesona. "Kau sebut cantik tapi kau buat mati? Itu katamu cinta?!" "Tapi aku sungguh mengagumimu." "Kagum? Hei, sadarlah Nona. Itu hanya egomu! Kau puaskan hasratmu memilikiku tanpa peduli bagaimana aku setelah ini kan?! Berakhir di riuhnya timbunan sampah!" "Tidak. Kau begitu cantik, mana mungkin aku membuangmu. Aku akan menyimpanmu di lembaran buku ku dan akan aku bawa ke mana pun aku pergi. Kau akan abadi." "Hhh, abadi.. benar sekali Nona. Abadi. Jasadku atau nyawaku?" Aku terdiam, memandang ia yang tergeletak layu di atas meja tuaku. Pertanyaannya kali ini sungguh membuatku... aku nampak seperti pengagum tolol. Benar - benar tolol, buru - buru ku tempatkan ia pada semangkuk air dengan harapan yang aku sendiri pun tak tahu apa. "Coba memperbaiki? Tak kan berarti apapun Nona, hanya beberapa hari. Setelah itu kau tahu sendiri. Mati." "Maaf, aku sungguh minta maaf. Aku hanya ingin menghidupkanmu kembali. Aku benar - benar ingin melihatmu hidup... Tanah! Benar, bagaimana kalau tanah? Iya benar, tanah, akan ku bawa kau ke sana. Tanah." "Hhh.. sudahlah Nona, tak usah bersusah payah. Dan tangismu itu tak usah kau tumpah ruah. Hanya membuatmu semakin terlihat seperti pengagum tolol yang gila, menangisi bunga yang telah ia petik sendiri." "Tapi aku sungguh tak ingin melihatmu mati.. sungguh." "Sudahlah.. bukan salahmu. Karena memang aku ini bunga, bersemi untuk mati. Dan satu lagi Nona.. Terima kasih telah pernah mengagumiku."
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • tentang sebuah rasa
  • ABOUT ME : Aku Ingin Istirahat
  • AILAH(END)✅
  • [√] Hydrangea Love | [Exp. Vers.]
  • Little Sister [Boboiboy Elemental]
  • The Destroyed House || Ice Allexan Allvaro [Selesai]
  • SENJA DI PUNCAK TANGKILING
  • I Want To Make You Mine
  • Mantan Terindah

"Lo belum jawab pertanyaan gue! Kenapa Lo Nerima perjodohan itu?" Tanya raka dengan nada dingin. "Karena....karena aku gak mau durhaka sama kedua orangtua. Apapun yang mereka inginkan kalo aku mampu pasti aku turutin." Ucap Zahra sambil terus menunduk atau melihat ke arah lain. "Sekalipun Lo harus ngorbanin masa depan Lo?" Tanya raka dengan tersenyum kecut. Sedangkan Zahra hanya diam. "Harusnya Lo bisa nolak baik baik. Kalo Lo nolak otomatis perjodohan ini gak akan terjadi! Gue itu enggak mau nikah sama Lo! Harusnya Lo ngertiin gue." Ucap Raka yang mulai marah. "Tapi kenapa harus aku yang nolak? Kalo kamu gak mau, kenapa kamu terima juga? Kamu juga bisa nolak kan?" Tanya Zahra yang tidak habis pikir dengan ucapan Raka yang seakan menyalahkan diri nya. "Tapi gue gak bisa! Kalo gue nolak semua fasilitas gue bakal disita. Ngerti gak sih Lo?" Ucap Raka sengit. "Harusnya juga kamu ngertiin posisi aku. Dan aku cuman gak mau jadi anak durhaka. Udah itu aja!" Jawab Zahra berusaha sabar. Raka mengusap wajah nya kasar lalu kembali menatap tajam zahra. "Gue pastiin Lo bakal nyesel nikah sama gue! Camkan itu!" Ucap Raka lalu bergegas pergi keluar kelas dengan membuka pintu nya kasar. Zahra hanya beristighfar menghadapi sikap Raka yang ternyata seperti ini. Gimana kelanjutan ceritanya? Yok! Langsung aja baca ya guys🤗

More details
WpActionLinkContent Guidelines