Story cover for Devan & Dirga by NahdahMeuthia
Devan & Dirga
  • WpView
    Membaca 481
  • WpVote
    Suara 12
  • WpPart
    Bagian 2
  • WpView
    Membaca 481
  • WpVote
    Suara 12
  • WpPart
    Bagian 2
Bersambung, Awal publikasi Jun 10, 2016
Dirga Pratama dan Devan Adirama, sepasang anak kembar yang sama sekali tidak menyiratkan bahwa mereka kembar. Justru kadang kala saling bertolak belakang. Disitulah karakteristik mereka terlihat. Kendati demikian, wajah tampan mereka serupa. Alis tebal, hidung bangir, rahang tegas dan cukup terbentuk. Terlepas dari kerupawanan, keduanya memiliki eminensi dan cela dalam diri masing-masing. Saat ini mereka belum menemukan tujuan hidup. Namun, sejak kecil jika ada yang bertanya, "Kalau udah besar ingin jadi apa?" Salah seorang dari mereka menjawab, berangan-angan memiliki restoran pribadi dan menjadi chefnya pula. Dan yang satunya lagi mendambakan profesi arsitek.
 
Akankah semua itu terlaksana? Atau hanya fantasi semata?

Lalu, bagaimana dengan romantika mereka? Akankah berhujung klise, mencintai orang yang sama? Atau masing-masing memiliki parameter yang berbeda?

"Seribu hati boleh singgah, namun hanya ada satu yang bertahan."
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
Daftar untuk menambahkan Devan & Dirga ke perpustakaan Anda dan menerima pembaruan
atau
Panduan Muatan
anda mungkin juga menyukai
anda mungkin juga menyukai
Slide 1 of 10
TRIPLETS D [END] cover
The Twin Adventure  cover
Anak Kembar sang Presdir [END] cover
DUDA TAMPAN (End)  cover
Freaking Snow White cover
Pemilik Hati Ketos Dingin (Tamat)  cover
Menikahi Sahabat Ibuku cover
Different Twin cover
LALILA cover
2. Twins Brother (Revisi) cover

TRIPLETS D [END]

37 bab Lengkap

SQUEL MIYOZA & ADORE U Masa remaja tiga anak kembar yang memiliki kepribadian sangat berbeda. Saling bertolak belakang dengan keunikan masing-masing. Bagaimana kehidupan ketiga remaja kembar itu? Mari kita arungi cerita tentang kehidupan mereka. ---- "Pasti bakal banyak kakak-kakak ganteng," celetuk Difya yang langsung di tatap tajam oleh kedua kakaknya. "Dih, awas kalau macam-macam. Abang aduin ke ayah raja," ketus Ditya. "Dasar tukang ngadu," cibir Difya. "Suka-suka." "Halah, cowok kok pengadu." "Kalau nanti berantem, jangan sampai mas dengar ada yang nangis," ujar Dipta membuat kedua adiknya terdiam. ----