LORONG
  • WpView
    Reads 10
  • WpVote
    Votes 2
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadMatureComplete Sun, Jun 12, 2016
Alkisah hiduplah diantara perbukitan seorang perempuan dan anak laki2nya, anak pertama dan anak satu2nya. Namun kemudian anak itu meninggal karena demam meskipun seorang tabib dan memohonnya untuk berbicara, "katakan pada ku, apa yang membuatnya berhenti bergerak dan membisu?" Tabib berkata "karena demam" perempuan itu berkata, "demam itu apa?" Tabib menjawab "aku tak dapat menjelaskannya ia sejenis makhluk teramat kecil yg menyerang tubuh dan kita tak dapat melihatnya dengan mata kita". Kemudian tabib itu meninggalkannya dan ia masih saja teringat, "makhluk yang teramat kecil, kita tidak dapat melihatnya dengan mata kita". Sore harinya seorang pendeta datang untuk menghiburnya dan perempuan itu kembali menangis sambil berkata, "oh mengapa aku harus kehilangan anakku, anakku satu2nya, anakku yang pertama?" Sang pendeta pendeta berkata, "anakku, ini adalah kehendak Tuhan." Perempuan itu berkata "siapakah Tuhan & dimanakah dia? Bersambung....
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • I Was The Evil Witch
  • 3A (TERBIT)
  • Edgar Vaske
  • Keistimewaan Putri Mafia (Tamat)
  • Luka Adalah Temanku
  • Be The Devil Prince [END]
  • Villainess Illusion
  • Tomorrow • (Can't) Unite

COMPLETED. Dm for follback Spin off from "I'm More Than Just A Princess" ••~•• "Aleeyah Najma, kau dihukum mati atas percobaan perebutan takhta Yang Mulia Damian Azazel Lucretius de Erebos, dan percobaan pembunuhan terhadap Lady Isandra" Kalimat itu terngiang di kepalaku, seraya aku mendongak menatap panggung raja di sebrang sana. Dimana Isandra, menangis tersedu di dalam pelukan Azel saat melihatku yang akan dieksekusi. Aku terenyuh, rasa sakit dan sesak akan penyesalan memenuhi perutku. Apa yang telah aku lakukan? Aku memiliki semuanya namun aku sia-siakan. Sahabat yang begitu tulus, ayah yang perhatian padaku, tidak perlu kusebutkan harta dan ketenaranku. Apa yang kurang? Kenapa aku masih ingin merebut kebahagiaan orang lain? Kenapa aku begitu serakah? 'Kau bodoh Aleeyah' batinku memaki diri sendiri. Sekali lagi, kulihat sahabat baikku di sebrang sana. Ah rasanya bibir hina ini tidak pantas lagi menyebutnya sebagai sahabat. 'Teman ya?' Bibirku terangkat, aku tersenyum kecil. Sebuah kata maaf tidak akan cukup untuk menebus dosaku, akan kubayar semuanya di neraka nanti. Isandra, Azel, ayah, kalian semua berbahagialah. Maafkan kehadiranku yang merupakan bencana, kutuklah aku sebanyak yang kalian suka, aku rela, aku pasrah. Karena diriku adalah pendosa. CRASH ••~•• "Ah lagi-lagi kita harus mengurus bayi ini" Suara siapa itu? Bayi siapa? "Kau benar, sudah berapa lama sejak dia lahir? Tapi grand duke sama sekali belum datang melihatnya, sebenci itu grand duke pada putrinya" Grand duke? Putrinya? Ah persetan, aku tidak peduli. Aku harus keluar dari sini. 'Tapi kenapa tangan dan kakiku pendek sekali?' batinku saat aku tidak mampu menggerakkan anggota gerakku dengan leluasa. Hanya naik turun kanan kiri seperti... 'Tunggu, jangan bilang...' "Ah dia sudah bangun, aku akan mengganti popoknya. Kau siapkan susu setelah itu kita pergi" ucap seorang maid raksasa yang menatapku malas. Tunggu, dia tidak raksasa. 'Aku jadi bayi?!' #1 on

More details
WpActionLinkContent Guidelines