Mengunci Ingatan

Mengunci Ingatan

  • WpView
    Leituras 844
  • WpVote
    Votos 66
  • WpPart
    Capítulos 3
WpMetadataReadEm andamento
WpMetadataNoticeÚltima atualização sáb, dez 16, 2017
WpInfo
Ficção
Romance
[Sembilan tahun lalu...] "Horor amat muka lo pas ngeliat gue," celetuk lelaki itu, yang ternyata sedang menatap matanya. "Kenalin, Baskara Mahendra. Panggil Aska aja." Melihat uluran tangan lelaki itu, mau tak mau Mara menyambutnya dan melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan olehnya. "Asmara Kasia, panggil aja Mara." [Sembilan menit yang lalu....] "Buat apa sih kita ketemu lagi, Ka?" "Emangnya lo nggak mau ketemu gue?" "Kalo bisa milih dari awal, gue nggak pernah mau ketemu lo. Gue nggak akan ngizinin lo duduk di kursi sebelah gue. Gue... gue...." Gue bakal milih untuk nggak sayang sama lo dari awal, Ka, kalo bisa.... Tapi kalimat itu tak terlisankan oleh Mara. "Kalo gue bisa milih, gue bakal tetep milih untuk tetep sayang sama lo, Mar. Mau berapa kali gue reinkarnasi, I'll always choose to be yours."
Todos os Direitos Reservados
#62
besties
WpChevronRight
Junte-se a maior comunidade de histórias do mundoTenha recomendações personalizadas, guarde as suas histórias favoritas na sua biblioteca e comente e vote para expandir a sua comunidade.
Illustration

Talvez você também goste

  • Air Mata Di Pintu November (TERBIT) ✓
  • TENTANG SEPASANG
  • Arsyilazka
  • HILDAN'S STORY
  • Everything About Us [Krist Bday Event]
  • Marriage With Mr. Actor (The End)
  • Sepekan Penuh Sayang [Tamat] || Jeno & NCT Dream
  • ASRAMA LANTAI 7 {TERBIT} ✓
  • De la luna
  • Yesterday Lies

Novel bisa dibeli di Shopee Jaehana_Store BAGIAN KEDUA SAPTA HARSA VERSI NOVEL || KLANDESTIN UNIVERSE "Kenapa lo jahat sama gue! Kenapa kemarin lo pergi? Kenapa? Kenapa lo ninggalin gue? Kenapa lo tega, Jen?" Haikal tak bisa lagi menahan kesedihan yang telah menumpuk di dalam dirinya. Jendral hanya tertawa kecil. "Lo ngomong apasih, Kal? Gue nggak pergi ke mana-mana, kita kan selalu sama-sama. Gue mana pernah ninggalin lo. Ayo ikut, gabung sama yang lain." Ia menarik tangan Haikal, mengajaknya berlari menuju sisi lain dari air mancur itu. Di sana, semua anggota Klandestin berkumpul. Beberapa duduk di atas ayunan yang berderit pelan, ayunan tersebut dihiasi dengan lampu-lampu kecil yang mengelilinginya. "Bang Haikal! Kenapa telat? Kita nungguin loh!" seru Cakra. "Kal, sini, ada mainan yang cocok buat lo," tambah Reihan. Namun, Haikal menggeleng. Ia justru menggenggam erat tangan Jendral di sampingnya. "Kenapa, Mbul? Main sana," Jendral menatapnya dengan heran. Haikal menggeleng lagi, kali ini dengan lebih kuat. "Gue takut," bisiknya, suaranya hampir tak terdengar. "Takut?" Jendral tertawa, seolah-olah hal itu adalah lelucon. "Seorang Haikal takut?" Haikal mengangguk, menahan diri untuk tidak menangis. "Gue takut kalo genggaman tangan gue lepas, lo bakalan pergi."

Mais detalhes
WpActionLinkDiretrizes de Conteúdo