Mengunci Ingatan

Mengunci Ingatan

  • WpView
    Reads 844
  • WpVote
    Votes 66
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Dec 16, 2017
[Sembilan tahun lalu...] "Horor amat muka lo pas ngeliat gue," celetuk lelaki itu, yang ternyata sedang menatap matanya. "Kenalin, Baskara Mahendra. Panggil Aska aja." Melihat uluran tangan lelaki itu, mau tak mau Mara menyambutnya dan melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan olehnya. "Asmara Kasia, panggil aja Mara." [Sembilan menit yang lalu....] "Buat apa sih kita ketemu lagi, Ka?" "Emangnya lo nggak mau ketemu gue?" "Kalo bisa milih dari awal, gue nggak pernah mau ketemu lo. Gue nggak akan ngizinin lo duduk di kursi sebelah gue. Gue... gue...." Gue bakal milih untuk nggak sayang sama lo dari awal, Ka, kalo bisa.... Tapi kalimat itu tak terlisankan oleh Mara. "Kalo gue bisa milih, gue bakal tetep milih untuk tetep sayang sama lo, Mar. Mau berapa kali gue reinkarnasi, I'll always choose to be yours."
All Rights Reserved
#627
chicklit
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Everything About Us [Krist Bday Event]
  • Our Juvenile : MANGUN KARSA
  • DUTRA AZALEA (COMPLETED)
  • Marriage With Mr. Actor (The End)
  • Love in Difference
  • Sejarah Kita
  • Air Mata Di Pintu November (TERBIT) ✓
  • Kamu
  • ASRAMA LANTAI 7 {TERBIT} ✓

"Aku dapat menutup mata atas apa yang tidak ingin aku lihat. Namun, aku tidak dapat menutup hati atas apa yang tidak ingin aku rasakan" Aku Krist Perawat, seorang mahasiswa jurusan bisnis semester 4. Di kampus aku sedikit menjaga jarak dari teman-teman yang ingin mendekatiku karena sewaktu SMA aku pernah dimanfaatkan oleh orang terdekatku. Sebenarnya aku tak berminat pada jurusan ini, tapi orangtuakulah yang mengharuskan. Aku memiliki bakat melukis sejak kecil dan impianku menjadi seorang pelukis. Oleh sebab itu, aku selalu bermalas-malasan dan jarang menghadiri kelas. Namun, seiring berjalannya waktu aku yang tadinya sering bermalas-malasan dan jarang menghadiri kelas tiba-tiba menjadi bersemangat untuk pergi ke kampus. Mungkin kedengarannya konyol, aku bersemangat hanya karena seorang pria yang dengan tak sengaja menolongku saat itu. Singto Prachaya Ruangroj, seorang pria berkulit tan, mempunyai tatapan yang tajam, garis rahang yang tegas, serta senyumnya yang begitu memikat. Sejak kejadian itu kami semakin dekat dan aku nyaman saat bersamanya. Aku selalu mengikuti kemanapun ia pergi, aku tak tahu dia terganggu atau tidak karena dia tak pernah mengusir ataupun memarahiku. Hanya dia yang saat itu dekat denganku, kebetulan kami berada di jurusan yang sama dan dia adalah kakak tingkatku. Hingga hari dimana aku bertemu dengannya,Gun Atthaphan. Pertemuanku dengan Gun sama saja ketika aku bertemu dengan phi Sing. Kehadirannya membuatku merasakan sesuatu yang belum pernah ku rasakan sebelumnya.

More details
WpActionLinkContent Guidelines