Our Destiny [Slow update]

Our Destiny [Slow update]

  • WpView
    Reads 207
  • WpVote
    Votes 32
  • WpPart
    Parts 7
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Jan 25, 2018
Tuhan... Bagaimana takdir mendiktekan perintahmu? Rasanya sungguh sakit, Hampir mati. Bukan salah Paulo pergi ke luar negri ketika ia satu-satunya yang membuatku yakin tuk tetap hidup. Bukan salah ibuku juga ketika ia tidak merestuiku dengan Paulo karena perbedaan keyakinan sehingga ia menjodohkanku dengan Ravi. Bukan salah Ravi juga ketika ia menikahiku dan menjalani pernikahan dingin bersamaku. Bukan pula salah Tuhan, karena Ia tau apa yang terbaik bagi makhluknya. •••••••••••••••••• "Bagaimana kisah Naftali dengan Ravi dan Paulo? Akankah cinta merubah takdir?" •••••••••••••••••• Aku semakin tak menentu ketika Junior hadir dalam hidupku. ••••••••••••••••• Selamat membaca, ini karya pertama saya, jangan lupa vote dan follow Azrain Avicenna
All Rights Reserved
#45
weding
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • SOLITUDES
  • VARA [HIATUS]
  • Sepotong Luka
  • Terluka Untuk Bahagia [ REVISI ]
  • MAGA (ON GOING)
  • JEEVANA
  • Pregnant with Rebel Prince
  • Tomorrow • (Can't) Unite
  • Delusi(Abel x Abi) ||OPEN PO||
  • Mencintaimu (Lagi) SEGERA TERBIT
SOLITUDES

Highest rank: #1 in Fiksiremaja #1 in Cerita #3 Pregnant #5 teenfiction #8 in Benci #8 in Pregnant #10 in SMA #10 in Remaja [DISARANKAN UNTUK FOLLOW AUTHOR TERLEBIH DAHULU, AGAR PEMBACA TAHU PENGUMUMAN TENTANG CERITA INI] ---- Malam itu, membuatnya membenci dirinya sendiri. Malam itu, malam terburuk baginya. Mengakhiri hidup adalah salah satu jalan baginya. Rasa benci yang sangat besar, membuatnya merasa kesepian. Ingin ia memutar waktu, untuk tidak menemuinya malam itu. 'Selalu menganggap diriku kotor, adalah sebuah kebiasaan.' - Gianna Pristin Dirgantara - ---- Kesalahan besar telah ia perbuat. Tantangan konyol yang membuatnya terjebak. Rasa penyesalan semakin tumbuh dalam dirinya. Lelah sudah ketika ia semakin tenggelam dalam penyesalan yang dalam. Kata maaf tidak pantas untuk ia ucapkan. 'Menyakitinya adalah kebiasaanku.' - Arthur Julian Wijayanto - ---- DON'T COPY MY STORY!!!

More details
WpActionLinkContent Guidelines