Cinta Yang Tak Berujung I

Cinta Yang Tak Berujung I

  • WpView
    Reads 40
  • WpVote
    Votes 3
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Jun 14, 2016
Apakah kau tahu bahwa kesempatan hanya datang satu kali saja di dalam hidup kita. Begitu pula dengan penyesalan, ia selalu datang terlambat sehingga membuat kita merasa sedih. Tapi kita tidak dapat menolak kedua hal itu jika datang kepada diri kita. Kita sebagai manusia seringnya menolak kesempatan itu dengan cara memilih-milih. Aku akan bercerita banyak hal kepada kamu mengenai cinta yang tak berujung. Aku menyadari betapa bodohnya diriku disaat kesempatan itu datang tetapi aku malah menolaknya dengan memilih yang lain. Rasa penyesalan itu kini sudah membukit karena aku tidak dapat memiliki apa yang ingin aku miliki saat ini. Ya, cinta itu memang buta. Banyak orang memandang cinta dari fisik semata mulai dari wajah yang tampan, memiliki ekonomi yang tinggi dan banyak di idolain para gadis. Tapi kenyataannya yang kita idolakan selama ini begitu buruk karena tidak ada satupun seorang cowok yang memiliki harta melimpah dan berperilaku yang baik. Kita hanya menilai mereka dari mata telanjang kita. Hanya satu dari milyaran orang yang memiliki ciri sempurna di dunia ini. Kamu harus mengatakan bahwa peryataan itu benar.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • You're Here, But Not For Me
  • Something Lost.
  • Sekali Lagi (End)
  • SalFlo
  • Akar dan Ranting
  • Kamu [SELESAI]✔
  • Sarang Heyo Korea Lovers
  • Full Of Scratches
  • pernah yang tak kan terulang kembali(love story from the author)
  • Antara Jarak Dan Waktu

Katanya, tatapan bisa bohong. Tapi kenapa setiap kali mataku dan matanya bertemu, jantungku selalu membocorkan semuanya? Aku yang diam-diam menyimpan perasaan, dan dia... entah menyembunyikannya, atau memang belum menyadarinya. Kadang aku berharap dia gak lihat. Tapi kadang juga kecewa waktu dia beneran gak lihat. Lucu ya? Dan aku? Aku tetap di sini. Setiap kali aku melihatnya, aku hanya bisa menatap dari kejauhan, menyembunyikan perasaan yang tak pernah terucap. Aku takut, jika aku mengungkapkannya, semuanya akan berubah. Jadi, aku memilih diam, menikmati setiap momen kecil yang bisa aku curi bersamanya. Aku sering bertanya-tanya, apakah dia pernah merasakan hal yang sama? Namun, aku terlalu takut untuk mencari tahu jawabannya. Karena jika ternyata tidak, aku harus siap menerima kenyataan yang menyakitkan. Aku tahu, ini bukan cinta yang sehat. Tapi bagaimana aku bisa berhenti mencintainya, jika setiap detik aku hanya memikirkannya? Aku mencoba untuk menjauh, untuk melupakan perasaan ini. Namun, semakin aku mencoba, semakin aku terjebak dalam perasaan yang sama. Seolah-olah hatiku menolak untuk melepaskan. Aku membayangkan bagaimana rasanya jika dia tahu perasaanku. Apakah dia akan menjauh, atau justru mendekat? Namun, semua itu hanya ada dalam pikiranku. Aku menulis tentangnya, tentang perasaanku yang tak pernah sampai. Menulis menjadi pelarianku, satu-satunya cara untuk menyalurkan perasaan ini. Karena aku tahu, aku tak akan pernah bisa mengatakannya langsung padanya. Aku hanya bisa diam dan menahan semuanya sendiri. Tapi mungkin, inilah caraku mencintai. Dalam diam, tanpa harapan, tapi penuh ketulusan. Aku tahu, mencintai dalam diam adalah pilihan yang menyakitkan. Tapi aku juga tahu, ini adalah satu-satunya cara agar aku tetap bisa berada di dekatnya. Meskipun hanya sebagai teman, aku sudah cukup bahagia. Karena setidaknya, aku masih bisa melihat senyumnya setiap hari.

More details
WpActionLinkContent Guidelines