Werneriel

Werneriel

  • WpView
    Reads 230
  • WpVote
    Votes 72
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Jun 30, 2016
Mengapa hatinya tidak secerah mentari yang selalu menemani paginya? Kemana senyum yang selalu ia pancarkan dulu? Mengapa kaki ini tak ingin bergerak ke dunia luar? Kemana sifat jahil yang selalu terdapat dalam dirinya saat melihat pelayan? Mengapa matanya tak sebinar bintang yang selalu melihatnya setiap malam? Hanya satu alasan dan satu tempat, yaitu dia dan dunia lain. Dia meninggalkan perempuan itu selamanya. Perlahan hatinya terang walau masing remang-remang. Senyumnya mulai muncul walau sangat tipis. Kakinya mulai menapaki dunia luar. Sifat jahilnya mulai membara walau masih sebesar api di lilin. Matanya tidak seredup malam tanpa bulan lagi. Hanya satu alasan mengapa ia mulai bangkit, yaitu pria dari kasta yang berbeda. Lelaki lain datang dengan senyuman seterang dia yang meninggalkannya. Seketika tembok yang ia bangun untuk melupakannya runtuh. Memori itu kembali menghantuinya. Lelaki itu melakukan hal sama seperti dia yang sudah pergi. Sekarang perempuan itu bingung pada siapa dia akan berpaling. Apakah pria berbeda kasta itu atau justru lelaki lain yang perlakuannya persis seperti dia yang sudah pergi berhasil menyalakan lampu hati perempuan itu dan merapikan ruang hatinya? *** Ini hasil pemikiran saya sendiri. Dilarang keras menjiplak karya orang lain. Hargai karya orang lain dengan tidak menjiplak karya tersebut supaya kamu dihargai juga. Terima kasih.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Truth After Love, Kiara and Zaki (Tamat)
  • Takdir (Bukan) Pilihan
  • Ketukan Takdir
  • 𝐒𝐞𝐫𝐩𝐢𝐡𝐚𝐧 𝐀𝐬𝐭𝐚𝐦𝐚𝐥𝐚│〚𝐓𝐀𝐌𝐀𝐓〛
  • Mahligai Sunyi
  • Dibawah Langit Yang Retak (joongpond)
  • flashback~
  • 31 Months for You

sebelum baca, FOLLOW dulu gasii??? "Sayangkuu, cintakuu. Gimana dengan hari ini, hm? Are you happy?" "Seru dong, senang karena ada kamu, Ka. Hehe." Dulu, setiap percakapan kecil seperti itu mampu menyulap hariku jadi lebih indah. Tapi semua itu kini tinggal kenangan. Hubungan yang manis dan penuh tawa itu akhirnya harus berakhir, bukan karena cinta kami memudar, tapi karena kenyataan terlalu pahit untuk ditelan bersama. Aku masih mencintaimu. Masih ingin mendekat, masih berharap bisa kembali. Tapi jarak ini bukan lagi tentang raga-melainkan tentang takdir yang tak mengizinkan kita bersatu. Cinta kita besar, tapi tidak cukup untuk melawan kenyataan yang tak berpihak. Banyak halangan yang kucoba lalui demi kamu, demi kita... tapi ternyata semesta punya rencana lain. Kini, aku hanya bisa menatapmu dari kejauhan. Ingin kembali, tapi tak bisa. Ingin melepaskan, tapi hatiku belum rela. Satu kejadian itu-satu hari yang mengubah segalanya-telah memutus tali yang tak terlihat namun sangat kuat mengikat kita. Jika bukan karena kejadian itu, mungkin aku masih tersesat dalam hubungan yang samar: ada, tapi tak punya peran. Dulu aku memegang peran utama di hidupmu. Sekarang? Bahkan untuk menjadi figuran pun aku tak lagi layak. Kita pernah sangat dekat, tapi kini aku tahu... melepaskan sesuatu yang sudah terasa seperti rumah tidak akan membuat segalanya membaik. Bahagia tidak selalu datang setelah menjauh. Dan seringkali, hubungan yang tampak sempurna dari luar menyimpan luka yang tak pernah terucap. Aku tak menyangka semuanya akan berakhir seperti ini. Tapi yang sudah terjadi, biarlah terjadi. Meski begitu, kenangan itu-kenangan tentang hari itu-masih terpatri jelas di pikiranku. Hari saat aku sadar... cinta saja tidak cukup.

More details
WpActionLinkContent Guidelines