Never Enough × Ari Irham

Never Enough × Ari Irham

  • WpView
    Reads 4,481
  • WpVote
    Votes 271
  • WpPart
    Parts 4
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Nov 19, 2016
"kenapa seolah-olah semua ini tentang aku? tentang hobi DJ-ku? apa hubungan kita ini cuma dijalani sama satu orang? sama aku doang?" ari memandang lekat cewe yang duduk dihadapan nya. "karna emang nyata nya semua karna kamu! kamu yang nggak pernah coba memahami aku kamu yang nggak pernah ada waktu buat aku, sebenar nya prioritas kamu itu aku atau alat DJ sialan itu sih!" dada shila naik turun karna menahan gejolak emosi nya. persetan dgn penghuni cafe yg sudah memandang mereka. "it's over shil, im giving up i know i'll never enough for you" "cause you never tried to be enough for me ari!"
All Rights Reserved
#56
arhamnatic
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Kopi & Deadline (On Going)
  • Kawin Kontrak? [COMPLETED]
  • Stay With Me
  • D.I.A || Arsyah [END]
  • Irish
  • BEFUDDLES (SELESAI)
  • Awal Bertemu Denganmu  COMPLETED ✔
  • AILAH(END)✅

Bukan karena lambat bekerja, Ara lembur lagi bagai kuda. Ara duduk sendiri di cubicle, mata lelah, kopi sachet ketiga di tangan, layar laptop menyala dengan file yang hampir rampung. Ingatkan Ara sekali lagi bahwa kerjaannya 'hampir rampung'. Dia menatap layar, lalu menarik napas panjang, "Aku nggak tahu lagi ini kerjaan atau penyiksaan... Tapi besok pagi harus submit, kalau nggak... ya biasa, dapat teror halus dari atasan." Dulu waktu kecil, Ara selalu mengganggap orang yang pulang kantor sampai pukul 12 malam atau pagi buta adalah orang-orang keren. Iya keren, keren keramnya sebadan-badan. Ara menarik napas panjang untuk kesekian kalinya, "Aku gila deh kayaknya, masa dulu kerjaan kayak ginian aku bilang keren." Di sela kelelahan itu, Ara mengenang tempat ngopi yang pernah dia datangi dua minggu lalu-tempat yang jarang dia datangi sebelumnya, tapi entah kenapa, wajah sang barista masih lekat di kepalanya. Dia pernah bilang ke dirinya sendiri , "Aku nggak punya waktu buat cinta." Tapi sejak ketemu cowok itu... apa kalimat yang digaung-gaungkan Ara mulai retak? GA MENERIMA NAMANYA PENJIPLAKAN YA EGE, NYARI IDE ITU GA MUDAH‼️

More details
WpActionLinkContent Guidelines